Jumlah Banyak, Kaum Muslimin Diperebutkan Bagai Makanan? Inilah Sebabnya

0
ilustrasi @tipspengetahuan

Islam adalah agama terakhir yang menyempurnakan semua millah sebelumnya. Islam adalah agama tauhid yang menjadi inti ajaran seluruh Nabi mulai Adam ‘Alaihis Salam dan diakhiri oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semua Nabi dan Utusan Allah Ta’ala diutus untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama menuju penyembahan kepada Allah Ta’ala semata.

Karenanya, Islam itu mulia dan memuliakan. Islam adalah agama yang damai dan mendamaikan. Islam adalah millah yang selamat dan menyelamatkan. Islam adalah satu-satunya agama yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala, dan tidak diterima agama seorang hamba kecuali mereka dalam keadaan Islam. Bahkan kelak, Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam yang diutus untuk membunuh Dajjal pun beriman kepada Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini adalah sahabat-sahabat yang pertama masuk Islam. Merekalah sosok yang mulia akhlaknya; terdepan dalam shalat dan jihad. Mereka adalah generesi emas yang mencium bau surga saat masih hidup di dunia. Merekalah generasi yang orientasinya akhirat dan tak tertarik dengan dunia. Karena itu pula, Allah Ta’ala menundukkan dunia dan penguasaannya di bawah telapak kaki mereka.

Persia, Romawi, dan seluruh peradaban besar dunia kala itu tunduk di bawah kaum Muslimin. Bahkan, kaum Muslimin pernah menguasai dua pertiga belahan dunia di bawah pimpinan ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

Sayangnya, kini kaum Muslimin berada di bawah. Kaum Muslimin berjumlah banyak. Namun, banyaknya jumlah tak diikuti dengan kualitas yang mumpuni. Alhasil, kaum Muslimin diperebutkan bak makanan di meja saji; dikepung, diperebutkan, kemudian dilahap sampai tak tersisa.

Rupanya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah jauh-jauh hari memprediksikan hal ini. Dan, dari ‘bocoran’ tersebut, hendaknya kita memahami sebabnya dan bergegas untuk keluar dari seluruh hal yang menjadi sebab kekalahan menuju kemenangan yang dijanjikan.

“Seluruh umat mengerubuti kalian seperti memperebutkan makanan di atas piring,” demikian ini sabda Nabi yang diikuti tanya para sahabat, “Apakah jumlah kami kala itu sedikit?” Nabi menjawab, “Tidak. Jumlah kalian besar pada waktu itu. Akan tetapi, kalian seperti buih air bah.”

Jumlahnya banyak, tapi diperebutkan. Bahkan, diibaratkan buih; banyak dan tidak berbobot. “Sungguh,” lanjut Nabi, “Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kalian dari musuh-musuh kalian dan akan mencampakkan ke dalam hati kalian al-wahn.

Inilah sebabnya, al-wahn. Lantas, sahabat pun bertanya, “Apakah al-wahn itu, ya Rasulullah?” jawab Nabi, “Cinta dunia dan takut mati.”

Kini, penyakit al-wahn semakin mewabah. Betapa banyak kaum Muslimin yang mencintai dan mendamba dunia hingga takut mati. Padahal, dunia sementara, mati itu pasti, dan akhirat adalah haq. Semoga Allah Ta’ala lindungi kita dari jahatnya penyakit al-wahn. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaBocah yang Permalukan Tetua Yahudi
Berita berikutnyaPenuhi Lima Syarat Ini, Bercanda Pun Berpahala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.