Agar Tidak Mati dalam Keadaan Jahiliyah

2

Dibutuhkan kecintaan yang mendalam agar seseorang bisa menjalankan ketaatan setiap jenak di sepanjang hidupnya. Pasalnya, banyak kesukaan yang diabaikan, bahkan diceraikan, jika seseorang hendak melakukan ketaatan di jalan Allah Ta’ala.

Shalat, misalnya, adalah amal shaleh yang hanya bisa dirutinkan oleh mereka yang mencintai Allah Ta’ala. Sebab di kala Zhuhur, adalah saat yang amat menyenangkan untuk berlama-lama dalam istirahat di tengah terik, atau menghabiskan waktu dalam obrolan bersama teman-teman kerja.

Begitupun dengan shalat di waktu lain, yang selalu menemukan alasan untuk ditinggalkan bagi mereka yang kafir maupun ingkar kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Tak hanya shalat, amalan lain pun serupa. Jihad, misalnya. Bukankah perintah untuk berjihad yang termaktub dalam surat al-Baqarah [2] ayat 216 terdapat kalimat yang berbunyi, “Padahal berperang itu merupakan sesuatu yang kamu benci”?

Itulah tabiat ketaatan. Ada ujian yang tak mudah, ada rintangan dan halangan yang melimpah. Maka hanya mereka yang mendapat pertolongan Allah-lah yang kuasa mendawamkannya hingga akhir hayatnya.

Padahal, dalam kewajiban jihad ada kemuliaan yang tak tertandingi dengan amalan lain. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa jihad merupakan amalan tertinggi dalam agama Islam yang mulia ini.

Tidak disukainya jihad, tulis Ibnu Katsir menerangkan, “Karena sangat berat dan menyulitkan, bisa menyebabkan kematian atau luka, termasuk kesulitan dalam perjalanan dan keberanian saat berhdapan dengan musuh.”

Akan tetapi, dalam amal yang tidak disukai itu, “Akan membawa kepada kemenangan dan keberuntungan atas musuh, penguasaan atas negeri, harta benda, wanita dan anak-anak mereka.” Apalagi, Allah Ta’ala telah menjanjikan, “Dalam peperangan terdapat kebaikan di dunia dan akhirat.” Ialah tegak tingginya kalimat Allah Ta’ala di muka bumi.

Sedangkan bagi mereka yang enggan, apalagi dengan alasan nafsu dan duniawi semata, ada akibat buruk yang telah Allah Ta’ala siapkan.

“Barang siapa yang meninggal dunia sedang ia tak pernah ikut berjihad dan juga tak pernah berniat untuk berjihad, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadits yang lain disebutkan, jika niat seseorang shiddiq (benar-benar karena Allah Ta’ala) agar bisa syahid di jalan-Nya, maka ia akan diganjari sebagai syuhada’ meskipun wafat di atas tempat tidur. Inilah yang dialami oleh Khalid bin Walid, sahabat nabi yang berjuluk Pedang Allah yang Terhunus. [Pirman]

Berita sebelumyaKaum yang Digergaji Hingga Terbelah Dua
Berita berikutnyaSyair Jihad ‘Abdullah bin Jahsyi

2 KOMENTAR

  1. menurut saya jihad dapat dilakukan tidak selalu identik dengan berperang, dari yg saya baca, suami yang bekerja, istri yg melahirkan itu termasuk jihad,, cara jihad disesuaikan dengan kondisi lingkungan kita, bila seperti palestina tentulah harus dengan berperang, tapi di indonesia salah satu bentuk jihad dapat dilakukan dengan berdakwah,, yang pasti jangan sampai jihad digunakan untuk kepentingan kelompok, seperti bom bunuh diri untuk dan ISIS..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.