Jangan (hanya) Berdoa

1

Satu di antara kiat sukses dunia dan akhirat bagi seorang Muslim adalah berdoa; panjatkan pinta kepada Allah Ta’ala yang didahului dengan meminta ampun, sampaikan pujian kepada Zat Yang Maha Terpuji, dan bershalawat kepada Nabi-Nya yang mulia. Namun, ada kondisi ketika doa tak banyak bermakna. Apalagi jika hanya berdoa, kemudian berdalih tengah melakukan tawakkal kepada Allah Ta’ala.

Sikap inilah yang pernah dicela oleh ‘Umar bin Khaththab. Sebab memang, doa dan ikhtiar adalah syarat utama sebelum seseorang melakukan tawakkal yang bermakna menyerahkan seluruh urusan terkait hasil kepada Allah Ta’ala Yang Mahakuasa.

Hari itu, ‘Umar yang ditakuti oleh setan dan bergelar al-Faruq ini menjumpai kelompok yang tengah berasyik masyuk di masjid. Bukan lantaran di masjidnya, sebab i’tikaf di dalamnya adalah keutamaan. Sebabnya, mereka tenggelam dalam ibadah ritual di sepanjang hari; tidak bertebaran di muka bumi untuk menjemput karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.

“Apa yang kalian kerjakan?” tanya ‘Umar melakukan konfirmasi.

“Kami,” jelas mereka, “adalah kelompok mutawakkilun.” Mereka mengaku sebagai orang yang bertawakkal dengan menyandarkan diri di masjid sepanjang hari; tanpa melakukan usaha-usaha ikhtiari untuk menjemput karunia Allah Ta’ala sebagai salah satu jenis ibadah.

“Bukan,” sangkal ‘Umar. “Kalian,” lanjutnya, “adalah muta’akkalun.” Mereka, jelas ‘Umar, adalah orang-orang yang malas bekerja dan hanya menunggu uluran tangan dari sesamanya.

Semakna dengan riwayat ini, ‘Umar juga pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali kalian hanya duduk-duduk tanpa mau bekerja menjemput karunia Allah Ta’ala dan hanya berdoa, ‘Ya Allah, turunkan rezeki-Mu kepada kami.’” Padahal semua orang juga mengetahui bahwa langit tidak mungkin menurunkan emas, perak, uang, ataupun jenis harta lainnya.

Apa yang dilakukan ‘Umar bin Khaththab ini adalah pelajaran yang amat berharga. Bahwa ikhtiar adalah jalan yang menunjukkan seberapa besar dan benarnya doa yang dipanjatkan. Seperti seorang murid yang berkata kepada orang tuanya akan mendapatkan nilai yang baik, maka jalan yang ditempuh adalah belajar dengan sungguh-sungguh sembari senantiasa memanjatkan pinta kepada Allah Ta’ala.

Dalam banyak ayat-Nya, Allah Ta’ala juga mengingatkan agar kita senantiasa terobsesi dengan akhirat dan tidak melupakan jatah di dunia. Disebutkan juga, agar senantiasa bertebaran di muka bumi guna menjemput karunia Allah Ta’ala sebagai salah satu bentuk ibadah kepada-Nya. [Pirman]

Berita sebelumyaPadahal, Tipu Daya Setan itu Lemah
Berita berikutnyaSedekah yang Paling Utama Menurut Rasulullah

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.