Jangan Bahagia karena Lakukan Ketaatan

0

Di antara ujian yang dialami oleh mereka yang telah terbiasa dengan amalan ketaatan adalah merasa bangga dengan dirinya sendiri. Bentuk dari perasaan ini, di antaranya adalah merasa bangga atas ibadah yang dilakukan dan menisbatkannya sebagai upayanya terkait strategi, sifat rajin, siasat, dan hal teknis lainnya.

Betul jika untuk melakukan ketaatan butuh strategi, tapi merasa bahagia bahwa itu semua dilakukan atas usahanya adalah sesuatu yang lain dan patut dikoreksi. Apalagi, tak ada daya dan kekuatan dalam diri seorang hamba kecuali atas izin dari Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Athailah as-Sakandari memberikan nasihat, “Janganlah ketaatanmu kepada Allah Ta’ala membuatmu bahagia lantaran engkau mampu melaksanakannya.”

Nasihat ini, ditekankan pada frasa “lantaran engkau mampu melaksanakannya”. Karena semua jenis ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba, baik yang paling sederhana hingga amalan yang harus dikerjakan dengan sumber daya yang amat besar, semuanya hanya bisa terjadi karena Allah Ta’ala memberikan kekuatan kepada seorang hamba untuk melakukannya.

Seseorang berdzikir, bersusah payah membaca al-Qur’an, terlibat dalam banyak proyek amal saleh, melakukan umrah, haji, beri’tikaf di masjid, membeli banyak buku keislaman untuk wakaf, dan amalan-amalan lainnya; itu semua bisa terjadi lantaran pertolongan dari Allah Ta’ala.

Pasalnya, di luar sana banyak sekali orang yang lebih mampu dan lebih memiliki banyak alasan teknis untuk melakukan aneka proyek amal saleh itu semua. Tapi, mereka terhalang untuk melakukannya, sedangkan orang lain yang jauh dari kriteria mampu justru kuasa melakukannya.

Maka Allah-lah yang telah memapukan orang tersebut. Dialah yang telah memilihnya sehingga terlibat dalam banyak amal ketaatan kepada Allah Ta’ala, sehingga ia bersegera dan mampu beristiqamah dalam melakukan sunnah-sunnah Nabi-Nya yang mulia.

“Akan tetapi,” lanjut penulis kitab al-Hikam ini, “bergembiralah kepada-Nya lantaran ketaatan itu terjadi karena karunia Allah Ta’ala kepadamu.”

Yang terlarang adalah bergembira karena merasa mampu melakukan amal ketaatan, sedangkan bergembira, bahagia, dan bersyukur kepada Allah Ta’ala atas karunia ketaatan yang diberikan kepada kita adalah dianjurkan.

Yang kedua inilah bergembira yang dianjurkan. Ialah sebentuk syukur atas nikmat yang diberikan-Nya. Ialah pengakuan tulus, bahwa tanpa kekuatan dari-Nya, dirinya tak akan mampu melakukan apa pun. Pun untuk amal saleh yang sangat kecil dan sederhana, semuanya bisa dilakukan hanya karena karunia-Nya kepada seorang hamba. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaEnam Cara Perbarui Iman (Bagian 2)
Berita berikutnyaSibuk Beribadah, Lelaki Ini Diusir ‘Umar bin Khaththab dari Masjid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.