Inilah Julukan yang Paling Hina di Sisi Allah

0
ilustrasi @tgdaily

Dalam pergaulan keseharian, ada kebiasaan menggunakan julukan dalam memanggil sesama. Di Jawa, julukan untuk orang lain disebut ‘telahan’. Sedangkan di Arab, ada yang namanya laqob dan kunyah. Biasanya, menjuluki sesama memiliki sejarah; entah itu baik maupun buruk.

Ternyata, Islam yang amat mulia pun mengatur hal ini dengan sangat baik. Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam dalam banyak riwayat mengingatkan umatnya akan pentingnya hal ini. Karena, nama dalam Islam memiliki kedudukan yang besar, lebih dari sekadar sebutan semata, namun terdapat doa di dalamnya.

Penulis pun teringat dengan ceramah KH Ma’ruf Islamuddin Sragen puluhan tahun silam. Beliau menyampaikan nasihat agar kaum muslimin tidak ‘sok-sokan’ dalam memberi nama. Beliau mencontohkan kebiasaan masyarakat yang sering menggunakan istilah luar (Arab maupun Inggris), namun tak paham maksudnya.

Misalnya, beliau menyebutkan, “Jangan hanya karena berbahasa Arab dan terdengar keren, maka orang tua memberi nama anaknya dengan ‘Ibnusy Syaithan’.” Diiringi canda, Kiyai yang juga piawai bershalawat itu menerangkan, “Jika besar, bisa jadi anak tersebut suka membakar rumah tetangga.”

Itulah di antara nama yang dilarang. Maka dalam sebuah kisah kita mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan orang yang datang kepadanya untuk mengganti nama, sebab maknanya buruk. Kemudian beliau juga menyebutkan, di antara bentuk kedurhakaan orang tua kepada anak adalah memberikan nama yang maknanya tidak baik.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah menyampaikan salah satu jenis julukan yang paling hina. Secara marfu’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Julukan yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang menjuluki dirinya dengan Malikul Amlak (Raja-diraja).” Sebab, “Tidak ada raja yang sebenarnya kecuali Allah Ta’ala.”

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari buruknya sifat ini. Sebuah kesombongan yang mulanya ketidaktahuan atau disengaja. Orang yang sombong, merasa bisa, dan menganggap dirinya sebagai Tuhan, kelak akan memperoleh siksa di dunia dan akhirat sebagaimana dialami oleh Fir’aun.

Sosok yang mengatakan dirinya sebagai Tuhan, kemudian merasa bisa menghidupkan dengan membiarkan hidup siapa yang taat kepadanya, dan mematikan dengan membunuh siapa yang menentang aturan-Nya. [Pirman]

Berita sebelumyaUntuk Apa Memohon Hidayah Berkali-kali Setiap Hari?
Berita berikutnyaBegini Cara Mengusir Setan dari Rumah Anda