Inilah Ayat dan Hadits yang Sering Disalahtafsirkan Oknum Sufi

0
3372
ilustrasi @redaksiindonesia.com

Ada banyak sufi yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Namun tak sedikit pula sufi yang salah dalam memahami dan menafsirkan dua sumber utama bagi kaum Muslimin ini.

Lantaran pentingnya hal ini, Imam Ibnul Jauzi mengingatkan kaum Muslimin agar mewaspadai kelompok sufi yang salah tafsir ini. Beliau menjelaskan dalam Shaidul Khatir, “Sebagian kaum sufi berusaha merekayasa hal-hal baru berdasarkan pendapat akal dengan menggunakan dalil-dalil dari ayat al-Qur’an yang tidak mereka pahami serta hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memiliki sebab-sebab khusus dan sebagian besarnya malah tidak shahih.”

Di antara ayat-ayat yang disalahtafsirkan oleh oknum sufi, masih merujuk pada penjelasan Imam Ibnul Jauzi Rahimahullahu Ta’ala adalah;

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 185)

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini, tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs. al-Hadid [57]: 20)

Sedangkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disalahtafsirkan ialah riwayat Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala dari sahabat mulia Jabir bin ‘Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda, “Sungguh buat Allah Ta’ala, dunia lebih hina dari seekor kambing yang mati untuk pemiliknya.”

Sebagai dampak dari salah paham, salah arti, dan salah tafsir itu, lanjut Imam Ibnul jauzi, “Mereka bersegera meninggalkan dunia dengan bersungguh-sungguh tanpa  berusaha mencari tahu tentang hakikatnya. Ini adalah sikap yang tidak pas, sebab sesuatu yang belum diketahui hakikatnya tidak boleh langsung dipuji atau dicaci.”

Imam Ibnul Jauzi menyebutkan contoh tentang berbagai makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’ala di muka bumi ini. Beliau menyebutkan bumi dengan seluruh makhluk di permukaannya, air, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan lain sebagainya yang diciptakan untuk kelestarian alam.

Semua itu juga bisa digunakan untuk memperkuat iman dan taqwa serta meningkatkan kedekatan seorang hamba kepada Allah Ta’ala.

“Ini merupakan sesuatu yang menjadi sebab kelestarian kehidupan seseorang sufi dan ahli ibadah, sehingga (dunia) layak dipuji, bukan dicaci.” pungkas sang imam menjelaskan.

Jadi, dunia ini netral. Yang buruk dan hina adalah hamba dunia. Sebab tak layak bagi manusia yang berakal untuk menjadi hamba siapa pun, kecuali hamba Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]