Indahnya 3 Nasihat Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani Menjelang Wafatnya

0

Nama Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani tak asing lagi di telinga kaum Muslimin. Perkataan beliau sering dirujuk, nasihatnya diamalkan, dan senantiasa dipuja-puji oleh murid-muridnya di berbagai belahan dunia di setiap generasi. Bahkan, di kalangan Nahdhatul ‘Ulama’, nama beliau senantiasa disebut dalam rangkaian Tawasul setelah menyebut Nama Nabi Muhammad dan keluarganya, sahabat, dan ulama’-ulama’ sekaliber beliau lainnya.

Banyak kisah yang beredar tentang Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Sebagiannya shahih, sedangkan sebagian lainnya perlu diteliti ulang. Umumnya, kisah ini diriwayatkan secara langsung dari seorang guru kepada muridnya, terus seperti itu. Alhasil, validasi pun sukar dilakukan, sebab sumbernya juga belum tentu dipercaya. Meskipun, di luar shahih atau tidak, tetap saja ada hikmah yang bisa dimanfaatkan guna mendapatkan kebijaksanaan hidup.

Satu di antara kisah-kisah terkait Syeikh yang kerap disebut dengan julukan al-Baghdadi ini, kami riwayatkan dari Habib Ali Zainal Abidin al-Hamid. Beliau adalah dai asal Malaysia yang sangat detail saat menjelaskan sebuah persoalan. Retorikanya menggugah, ekspresi wajahnya hidup saat berceramah, mudah diingat, dan menggerakkan untuk diamalkan.

Beliau menuturkan, semasa kecil, Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani adalah sosok yang sangat amanah dan jujur. Beliau tidak mau mengingkari apa yang telah diucapkannya, apalagi jika berjanji kepada ibunya. Sehingga, kejujuran ini membuahkan islamnya sekelompok perampok ketika beliau dijarah di tengah perjalanan menuju tempat menuntut ilmu.

Kisah lainnya, kami meriwayatkannya dari Allahu yarham Syeikhna Sa’id Ramadhan al-Buty. Seorang ulama’ kharismatik asal Suriah yang wafat belum lama ini. Dalam sebuah wawancaranya yang disebarkan di jejaring sosial, Syeikh al-Buty menuturkan satu episode mengharukan terkait akhir hayat Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani.

“Di akhir hayatnya,” tutur dai yang menyejukkan saat dipandang ini, “Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani berpesan kepada anaknya yang bernama Musa.” Bukan wasiat terkait harta dan benda atau ketenaran, Syeikh ‘Abdul Qadir menyampaikan pesan yang amat berharga bagi anaknya itu dan seluruh kaum Muslimin sepeninggalnya.

“Berpegangteguhlah kepada al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta jauhilah segala jenis bid’ah.”

Sebuah nasihat singkat, padat, jelas, tetapi amat sukar dikerjakan. Bahkan, mungkin nasihat ini banyak dikhianati oleh sebagian mereka yang mengaku mencintai dan menjadi pengikut Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani sendiri. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaSetan yang Kerasukan Manusia?!
Berita berikutnyaMengapa Imam Malik bin Anas Sangat Menyukai Pisang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.