Imamnya Para Preman

0
sumber gambar: artikel.masjidku.id

Mengapa sebagian pendidik cenderung menyalahkan murid-muridnya yang nakal? Tidakkah tersisa sedikit ruang di hati para pendidik itu untuk melakukan introspeksi? Sejenak saja. Jangan-jangan, kenakalan para murid adalah buah dari dosa para pendidik; entah kapan, disadari atau tidak, besar atau kecil.

***

Saat anak ini pertama kali bergabung di majlis kami, tetangga heboh. Bagaimana mungkin mereka akan tenang menitipkan anaknya mengaji secara gratis, jika di majlis itu terdapat anak yang merupakan imamnya para preman kecil?

Kami tersenyum. Tidak menjawab apa pun. Hanya diam yang beriring doa. Semoga Allah Ta’ala memudahkan. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita jalan kebaikan bagi sebanyak mungkin umat manusia.

Waktu berlalu. Imamnya preman ini termasuk rajin hadir. Karakter ingin unggulnya terasah dengan baik hingga mendahului hafalan anak-anak yang bergabung sejak awal. Qadarullah, ia kelar menghafal 40 ayat pertamanya. Surat an-Naba’. Tunai. Lancar. Alhamdulillah.

Teman-teman hafal?

Kami percaya, seburuk apa pun, setiap anak punya potensi baik. Kembali ke kita selaku orang tua dan pendidik, “Mau fokus pada kekurangan dan mendramatisirnya atau mengulik kelebihan dan memolesnya hingga menjadi unggul?”

Bapak dan Ibu para pendidik, negeri ini membutuhkan Anda sebagai pelita. Bukan hakim.

***

Anak ini datang lengkap dengan timnya. Satu adik yang satu kelas di sekolah umum karena dia tidak naik kelas satu kali, satu keponakan perempuan yang aktif mengaji, dan dua adik keponakannya yang masih kecil. Yang datang untuk menyimak dan bermain.

Anak ini, tampilannya jauh dari makna bening atau bersih. Ia sering diledek teman-temannya dengan sebutan ‘dekil’, lengkap dengan seluruh makna dan tafsirannya.

Kami membesarkan hatinya. Bahwa dahulu, ada laki-laki hitam legam bernama Bilal bin Rabah yang dijamin surga karena amal shalihnya. Ada pula sahabat yang saking hitam dan pendeknya hingga disebutkan, “Jika jatuh di malam hari, tiada yang melihatnya.”

Segala puji bagi Allah Ta’ala. Anak yang disebut ‘dekil’ ini tetap bersemangat. Ia termasuk yang jarang izin.

Suatu pagi di masjid waktu Shubuh, kami melihat auranya. Rupanya, dia sudah terlebih dahulu berada di masjid. Tepat ketika iqamah berkumandang, ia mendekat. Saya pun mendekat. Kami bertukar senyum. Saya elus pundaknya. Kemudian kami bertakbir bersama imam. Shubuh berjamaah.

Bapak dan Ibu para pendidik, kami berharap kepada Allah Ta’ala, agar bapak dan ibu dikaruniai kesabaran. Ini bukan soal bayaran berapa. Bukan soal negeri, swasta, atau honorer. Saya percaya, rezeki sudah ada yang menjamin.

Namun, selama orientasi utama bapak dan ibu hanya recehan rupiah, kepada siapa lagi bangsa dan agama ini harus menitipkan amanah mengubah generasi melalui pendidikan?

Saya haqqul yakin dan terus ingat dengan petuah Kiyai Haji Maimoen Zubair. Beliau bertutur, “Jika ada muridmu yang nakal, sabarlah. Doakan. Mudah-mudahan satu di antara mereka ada yang menarikmu dari neraka, lalu mengajakmu menuju surga.”

Ingat wajah murid-murid kita. Jangan selalu tanyakan soal uang pembayaran. Doakan mereka. Agar kerja keras ini berbuah bahagia di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaMengapa Rezeki Orang Mukmin di Dunia Ini Sedikit?
Berita berikutnyaNasihat Mencengangkan Imam al-Ghazali untuk Orang Islam yang Bela Ahok Mati-matian