Imam yang Mendoakan Gurunya selama 30 Tahun

0
ilustrasi @plus.google

Para pendahulu dalam agama Islam yang mulia ini adalah sosok-sosok yang bersih ruhaninya, cemerlang otaknya, dan memesona akhlaknya. Mereka adalah kesempurnaan dari lautan manusia yang penuh kurang dan salah. Mereka ibarat gemintang yang senantiasa bercahaya di tengah gulita malam.

Meski berbeda pendapat dalam banyak persoalan cabang agama, mereka adalah sosok yang saling menghormati, berlomba memuliakan, dan senantiasa mendoakan di dalam tiap kesempatan munajatnya. Alhasil, hati mereka saling berpelukan dan pikiran mereka bersih dari buruk sangka.

Di antara mereka itu, ada sosok imam yang amat mulia dan dijunjung tinggi oleh para muridnya. Dalam sebuah kesempatan, beliau mengatakan telah mendoakan gurunya yang sesama imam dalam kurun waktu tiga puluh tahun. Padahal, keduanya berbeda dalam berbagai pendapat. Pun para muridnya. Namun, mereka mengedepankan perlakuan yang mulia kepada sesamanya, apalagi terhadap gurunya itu.

“Sudah tiga puluh tahun,” akunya kepada anaknya, “tak kurang-kurangnya aku mendoakan Imam asy-Syafi’i dan memohonkan ampunan untuknya.”

Demikianlah akhlak yang memesona itu. Memanjatkan doa untuk seorang guru, pembela sunnah, ahli fiqih, dan orang saleh yang terpilih karena kemuliaan ilmunya. Dan, kurun waktu tiga puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar.

“Ayah,” tanya sang anak kepada ayahnya itu dalam kesempatan lain, “siapakah yang engkau sebut-sebut dengan Imam asy-Syafi’i itu?” Pasalnya, sang anak sering mendengarkan nama itu terlantun dalam doa-doa ayahnya di sepanjang waktu dan kesempatan.

“Nak,” jawab sang ayah penuh kelembutan, “Imam asy-Syafi’i itu bagaikan matahari bagi dunia ini dan obat bagi manusia.” Demikian mulianya sang Imam Syafi’i yang telah menjalani ujian berat dalam menuntut ilmu hingga layak dirujuk pendapatnya dan menulis banyak kitab rujukan bagi kaum Muslimin di seluruh dunia ini.

Tanya retoris sang ayah kepada anaknya itu, “Perhatikanlah,” lanjutnya, “adakah yang bisa meneruskan dan menggantikan kedua hal (matahari dan obat) itu?”

Itulah pengakuan yang sangat tulus akan kualitas keilmuan, kesalehan, dan akhlak sang Imam asy-Syafi’i. setelah diibaratkan sebagai matahari dan obat, maka beliau tak bisa digantikan atau diteruskan oleh siapa pun selepasnya.

Dan, tahukah kita; siapakah sosok imam yang mendoakan Imam asy-Syafi’I sepanjang tiga puluh tahun itu? Siapakah sosok yang mengibaratkan penulis kitab al-Umm ini sebagai matahari bagi dunia dan obat bagi manusia itu?

Dialah sosok saleh yang rendah hati, Imam Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah Ta’ala merahmati dan meridhai keduanya. Aamiin. [Pirman]

Artikel sebelumnyaDari Empat Perumpamaan Ini, Di Manakah Posisi Kita?
Artikel berikutnyaTaubatnya Pencuri di Tangan Malik bin Dinar