Dibenci Orang Jahiliyah, Keburukan Ini Justru Digandrungi Orang Masa Kini

0

Namanya Hindun binti Khuss al-Iyadiyyah. Merupakan keturunan bangsawan Arab pada masa jahiliyah, masa kebodohan. Wanita ini memliki tiga kelebihan setelah nasabnya yang mulia; cerdas, fasih, dan bijaksana. Betapa dirinya telah menghimpun segala pesona fisik di dalam dirinya, sayangnya iman belum ada di sanubarinya.

Malangnya, wanita ini melakukan sebuah kebodohan yang amat fatal. Dia melakukan keburukan yang sangat dibenci oleh bangsanya. Mirisnya, meski dahulu keburukan itu dibenci oleh orang-orang jahiliyah, ianya justru menjadi umum dan digandrungi umat akhir zaman ini. Na’udzubillah.

Hindun binti Khuss, sebagaimana dikisahlah oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, melakukan perzinaan. Bukan dengan sesama bangsawan atau orang tampan, tapi dengan seorang laki-laki dari status yang sangat jauh berbeda, budaknya.

Dahulu, perzinaan jenis ini sangat dibenci karena menunjukkan rendahnya selera dan harga diri seorang darah biru.

Ketika ditanya sebabnya, wanita ini menjawab dengan mengatakan, “Karena dekatnya bantal dan panjangnya percakapan.”

Dekatnya bantal merupakan ungkapan yang bermakna dekatnya jarak. Sering bersama dalam masa yang lama. Terbiasa melakukan aktivitas bareng-bareng. Bahkan kamar tidurnya berdekatan, dipisahkan dengan dinding atau tidak.

Dekatnya jarak ini amat memudahkan setan dalam menjerumuskan. Dengan memperlihatkan kebagusan dan eloknya fisik, ucapan, dan perangai, maka kedua anak manusia ini sangat rentan terjangkiti syahwat hingga terdorong melakukan zina.

Sedangkan panjangnya percakapan bermakna sering terjadinya percakapan, canda tawa, interaksi verbal antara mereka berdua tanpa adanya pihak ketiga. Bukankah Nabi pernah mengingatkan, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita bukan mahram, kecuali yang ketiganya adalah setan.

Kini, bisa jadi hal ini amat marak terjadi. Dengan canggihnya alat komunikasi, seorang laki-laki bisa mencurahkan semua hal kepada wanita bukan mahram sepanjang waktu, dan sebaliknya. Mereka bisa melakukan perbincangan teks sepanjang siang dan malam, bahkan bisa melakukan percakapan langsung dengan vasilitas audio-visual yang sangat mudah dilakukan.

Dengan demikian, menunjukkan aurat, na’udzubillah, tak lagi harus saling mendatangi, tapi bisa dilakukan dalam jarak yang relatif jauh, hingga berbeda negara dan benua.

Sungguh, ini merupakan hal yang amat memilukan. Meski fenomenanya amat marak di tengah-tengah dan sekeliling kita.

Ya Allah, lindungi kami dari zina. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaAndai Kalian Membeli Kertas untuk Malaikat Pencatat Amal!
Berita berikutnya4 Nasihat Agung Agar Mampu Tundukkan Pandangan