Tangis Pilu Sang Hakim Menjelang Ajalnya

0
sumber gambar: raur.co

Orang-orang beriman adalah mereka yang hatinya hidup karena senantiasa terhubung dengan Allah Ta’ala. Bukan hanya hidup, tapi hati mereka sehat dan bercahaya, senantiasa memancarkan kebaikan kepada orang-orang sekitar dan umat setelahnya sampai Hari Kiamat.

Keimanan mereka menembus ruang dan waktu. Kebaikannya abadi. Tidak habis termakan zaman. Selama ada kehidupan, selama itu pula kebaikan mereka dibincangkan dengan aroma harum dan menggerakkan siapa yang membacanya.

Laki-laki ini menjabat sebagai Hakim Kepala pada zaman pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid. Bukan orang sembarangan, laki-laki bernama Abu Yusuf ini merupakan salah satu imam yang sekaligus murid terbaik Imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta’ala.

Karirnya sebagai hakim terbilang mulus. Keadilan senantiasa dipegang. Bahkan, dia pernah memenangkan orang Nashrani yang bersengketa dengan Khalifah Harun ar-Rasyid. Meski dia telah berlaku adil, nyatanya tangis tak bisa dibendung. Di akhir hayatnya, kejadian inilah yang membuat sang imam sesenggukan seraya berlinang air mata, meski dia telah berbuat sangat adil.

Ketika tak berdaya di pembaringan dalam kondisi sakit, Imam Abu Yusuf menuturkan pengalamannya sebagai seorang hakim. Dalam ingatannya yang tajam, dia senantiasa bersikap adil dan tidak pernah memiliki kecenderungan hati untuk berlaku curang.

Namun, tatkala seorang Nashrani bersengketa dengan Khalifah Harun ar-Rasyid, dia tak bisa membendung hatinya untuk cenderung membela sang Khalifah dan memenangkan kasusnya. Tentu beralasan, sebab Khalifah adalah pimpinannya sekaligus seorang Muslim yang harus dijaga kehormatannya oleh sesama Muslim.

Setelah mendengar penuturan kedua belah pihak dengan cermat, Imam Abu yusuf memutuskan bahwa Khalifah Harun ar-Rasyid bersalah dan laki-laki Nashrani itu benar dalam sengketa tersebut. Imam Abu Yusuf pun memenangkan laki-laki tersebut.

Lihatlah kisah ini, betapakah hati kita tidak terenyuh membacanya? Imam Abu Yusuf menangisi dosa yang dilakukan oleh hatinya, itu pun hanya berupa kecenderungan yang belum menjadi sebuah tindakan nyata. Beliau menangisi niat yang bahkan tidak pernah diwujudkan. Hanya berupa kehendak yang amat kecil dan cenderung tidak diperhatikan apalagi diingat oleh sebagian kita.

Kisah-kisah semacam in banyak terdapat di zaman dahulu. Tapi saat ini menjadi sangat langka dan bisa jadi bernilai aneh dalam kaca mata umat manusia.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaWasiat Abdullah bin Mas’ud tentang Kepemimpinan yang Kini Terbukti
Berita berikutnyaNasihat Sufi yang Menggetarkan Jiwa