Hadits tentang Hijab yang Jarang Diketahui

0
5178

Menutup aurat merupakan perintah Allah Ta’ala kepada kaum Muslimin dan Muslimat sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Siapa menaati perintah tersebut, baginya pahala yang agung berupa keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Dan siapa pun yang berlaku ingkar dengan banyak dalih, tiada hak baginya kecuali kesukaran hidup di dunia dan balasan berat di akhirat kelak.

Di antara banyaknya ayat dan hadits terkait perintah menutup aurat, khususnya bagi Muslimah, ada satu riwayat agung yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Terdapat rahasia yang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam at-Tirmidzi, dan Imam Ahmad bin Hanbal Radhimahumullahu Ta’ala ini.

Adalah Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha sedang berama Maemunah. Keduanya ada keperluan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam hingga datanglah sahabat mulia Abdullah bin Umi Makhtum Radhiyallahu ‘anhu.

Saat Abdullah bin Umi Makhtum masuk, Nabi Shallallahu ‘ALaihi Wa sallam bersabda kepada Ummu Salamah, “Berhijablah kalian darinya.”

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha bertutur, “Ya Rasulullah, tidakkah ia buta? Ia tidak akan mengenali kami.”

Buat apa berjilbab? Buat apa berhijab? Bukankah Abdullah bin Umi Makhtum tidak bisa melihat? Bukankah ia tidak mungkin melihat aurat wanita yang melintas di hadapannya tanpa jilbab?

“Tapi,” tanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, “apakah kalian berdua buta?” Dalam riwayat lain disebutkan, “Tidakkah kalian bisa melihat?”

Hadits yang dikutip oleh Syaikh Abdul Hamid bin Abdirrahman as-Sahibani dalam Dahsyatnya Syahwat Mata ini memiliki beberapa hikmah nan agung.

Pertama, wanita harus menundukkan pandangannya sebagaimana laki-laki. Tidak dianjurkan bagi seorang wanita untuk mengumbar pandangan, sebab pandangan yang liar merupakan satu di antara sekian banyak anak panah iblis.

Kedua, seorang wanita akan terjaga saat mereka berusaha sungguh-sunguh untuk menjaga dirinya. Dia menjaga diri, dan Allah Ta’ala pun menjaganya.

Inilah yang terjadi pada Maryam binti ‘Imran ‘Alaihimassalam. Dia menjaga diri dari laki-laki yang bukan mahram seraya sibuk beribadah, dan Allah Ta’ala pun menjaga serta mencukupi seluruh kebutuhannya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]