Dua Keburukan Jika Manusia Tidak Diuji

0
ilustrasi Hati Kasar @raniyulianty

Terdapat kebaikan yang banyak dalam setiap ujian yang Allah Ta’ala berikan. Ada curahan hikmah dalam setiap cobaan yang menimpa seorang hamba yang beriman. Bagi mereka pahala yang agung, pengampunan dosa, dan janji keselamatan dari Allah Ta’ala; jika sabar menjalani setiap ujian, cobaan, rintangan, sakit, kehilangan, atau jenis ujian tak mengenakkan lainnya.

Bahkan, jika seseorang tidak mendapatkan ujian, ada keburukan yang tengah mengancam dirinya. Jika sepanjang hidup hanya mendapatkan bahagia-suka-gembira, tanpa sedikit pun sakit-sedih-dan sejenisnya, maka kita perlu khawatir. Sebab memang, ujian adalah satu di antara sekian banyaknya tanda bahwa Allah Ta’ala menyayangi hamba-hamba-Nya.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah menerangkan, ada sedikitnya dua keburukan yang mengintai seorang hamba yang tak pernah diuji dengan sakit atau kepedihan dalam hidup.

Ujub dan Takabbur

Sombong. Itulah keburukan yang pertama. Orang yang hanya mendapatkan kebahagiaan, menjalani kesukaan di sepanjang hidupnya, maka penyakit tinggi hati akan merasuk ke dalam hatinya. Pasalnya, mereka tak pernah mendapati kesulitan dan kesukaran hidup. Kemudian setan membisiki ke dalam jiwanya, bahwa kemudahan yang didapatkan merupakan tanda sayangnya Allah Ta’ala kepada dirinya.

Padahal, para Nabi dan orang-orang shaleh adalah sosok yang paling berat ujiannya. Bahkan mereka mendapatkan ujian dua kali lipat lebih susah dari manusia pada umumnya.

Inilah subhat yang dibisikkan oleh setan, sehingga orang-orang yang tak pernah mendapatkan ujian akan dirasuki sikap sombong. Padahal, sombong adalah selendang Allah Ta’ala dan hanya layak untuk-Nya. Dan, jika sikap itu ada di dalam hati seorang hamba, surga pun diharamkan baginya.

Kasar Hati dan Bekunya Jiwa

Mereka yang tak pernah diuji dengan kepahitan hidup akan kasar hatinya. Jiwanya pun beku. Sebab, tak pernah alami kesakitan atau kesulitan. Sedangkan sakit, sulit, susah, adalah terapi jiwa yang sangat efektif. Agar jiwa tenang dan senantiasa merasa butuh kepada Allah Ta’ala.

Karenanya pula, untuk melakukan terapi terhadap hati dan jiwa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan perintah untuk mengunjungi orang sakit, peduli kepada orang miskin dan yatim, mengurus jenazah, dan amalan lain untuk mengingatkan akan kelemahan diri dan butuhnya jiwa akan pertolongan Allah Ta’ala, serta sementaranya hidup di dunia yang fana ini. [Pirman]

Berita sebelumyaTerpotong Satu Kaki, Anaknya Wafat, Orang Ini Malah Bersyukur
Berita berikutnyaEmpat Nikmat dalam Tiap Bencana menurut ‘Umar bin Khaththab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.