Doktrin Gereja Katholik: Islam itu Keras, Kasar, dan Sukar!

0
5339
ilustrasi @Republika

Lanjutan dari Keluar dari Katholik karena Doanya kepada Yesus Tidak Dikabulkan

Setelah memutuskan keluar dari Katholik dan berhenti dari aktivis gereja, Bambang mengalami kebimbangan di dalam hatinya. Ia bingung untuk melanjutkan keyakinannya. Di satu sisi dia telah merasa dikecewakan oleh Katholik, tapi dia belum memiliki tambatan hati lainnya.

Apalagi terhadap Islam. Dia sama sekali tidak tertarik. Di dalam benaknya tercatat jelas, bahwa gereja Katholik menyampaikan doktrin terkait Islam yang keras, kasar, dan sulit. Anggapan itulah yang mencegah Bambang dari melirik Islam, tak tertarik meski sedikit pun.

Seiring berjalannya waktu, cintalah yang membawa Bambang pada Islam. Gadis asal Madura berhasil menambat hatinya. Ia yang berasal dari keluarga agamis pun memberikan syarat agar Bambang masuk Islam jika bersungguh-sungguh mencintai dan berniat menjadi suaminya.

Atas nama cinta, Bambang masuk Islam. Meski setengah hati. Hanya demi memuluskan niatnya untuk bersanding dengan wanita pujaan hati. Aduhai…

Beruntung, dia tidak mengalami tantangan berarti dari keluarganya. Masalahnya justru berasal dari dalam dirinya yang tak kunjung mampu menjadi Muslim yang sempurna. Islam hanya identitas.

Lambat laun, Bambang yang pindah ke daerah Yogyakarta dipertemukan dengan warga yang rukun dan suka berkumpul untuk ngaji bersama-sama. Ia yang baru pindah langsung meminta anggota pengajian untuk mengaji di rumahnya.

Dalam kajian tersebut dibacalah al-Qur’an al-Karim secara bergantian. Satu orang membaca, yang lainnya menyimak. Dan seterusnya. Ketika giliran Bambang membaca, dadanya berdegup kencang, keringat basah mengguyur badannya. Dia panik, lalu berlari ke kamar mandi seraya meminta izin untuk (pura-pura) buang hajat.

Setelah itu, Bambang berniat untuk belajar mengaji dengan caranya yang unik.

Ia mengajak beberapa tetangganya yang kerap berkumpul di pos ronda seraya main kartu. Ia mengajak mereka untuk mengaji dengan memanggil seorang guru ngaji. Pertemuan pertama hanya ngaji selema bebarapa menit, lalu dilanjutkan dengan begadang sampai larut malam.

Terus seperti itu hingga porsi mengaji jauh lebih banyak. Usahanya berhasil. Dia bisa membaca al-Qur’an al-‘Azhim, begitupun dengan sahabat-sahabatnya yang tukang main kartu.

Alhamdulillah, pengajian Bambang pun berlanjut, tak kurang dari 70 orang bergabung di rumahnya untuk mengaji yang berasal dari berbagai kalangan.

Selain nikmat hidayah, akhirnya Bambang pun diberi rezeki oleh Allah Ta’ala dengan berhaji ke Tanah Suci. Haji yang misterius, sebab ia tak tahu siapa yang membayari. “Dibayari Allah,” ungkapnya berkisah.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]