Diamalkan Para Nabi, Tapi Dilanggar Segelintir Oknum Bergelar Ustadz

0
3847
ilustrasi @Khotbah Jumat

Salah satu pemahaman yang massif di kalangan umat Islam akhir zaman ini adalah tentang doa secara terperinci, terang-terangan, dan tertarget. Sampai-sampai disebutkan dengan jelas warna mobil, harganya, waktunya, dan sebagainya.

Menjadi kontroversi sebab ternyata doa-doa jenis ini tidak bersesuaian dengan doa-doa yang diajarkan oleh Allah Ta’ala kepada para Nabi-Nya sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an.

Nabi Adam ‘Alaihis salam yang terpisah dari istrinya setelah diturunkan ke bumi hanya diajarkan kalimat penyesalan diri, permintaan, dan pengakuan kelemahan.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Dan jika Engkau tak mengampuni kami, sungguh kami termasuk orang yang merugi.”

Doa yang termaktub dalam Surat Al-A’raf [7] ayat 23 tersebut hanya berupa kalimat pengakuan kekeliruan.

Bukankah jika berdoa secara terperinci dan detail maka redaksinya, “Ya Allah, ampuni kami. Dosa kami banyak. Pertemukan hamba dengan istri hamba. Di tempat ini. Sepekan lagi. Hamba sudah kangen.”

Senada dengan Nabi Adam ‘Alaihis salam, Nabi Yunus ‘Alaihis salam pun mengalami ujian yang berat. Beliau berada di dalam tiga kegelapan sekaligus; perut ikan, dasar lautan, dan malam pekat.

Bagaimana Allah Ta’ala mengajarkan doa kepada Nabi yang marah hingga meninggalkan medan dakwah sebelum mendapatkan perintah ini?

“Tiada Tuhan yang hak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang zhalim.”

Doa Nabi Yunus ‘Alaihis salam yang terkabulkan ini terdapat di dalam Surat Al-Anbiya’ [21] ayat 87 hanya menyebutkan tiga muatan; tauhid, tasbih, dan pengakuan penyesalan atas kesalahan yang diperbuat.

Jika memang berdoa dengan terperinci, terang-terangan, dan detail dianjurkan, bukankah redaksinya, “Ya Allah, hamba lelah. Gelap dan bau di perut ikan. Tolong keluarkan segera. Tapi jangan di laut. Keluarkan di darat. Jangan juga dijatuhkan, sakit. Tapi seperti diantarkan, lalu ada makanan dan orang yang bisa menolongku di sana.”

Masih banyak doa-doa para Nabi ‘Alaihimus salam yang terdapat di Al-Qur’an, dan di dalamnya tidak terperinci sebagaimana pemahaman sebagian oknum yang akhir-akhir ini semakin massif.

Memang, kita harus meminta kepada Allah Ta’ala sebagai wujud kebutuhan hamba kepada Penciptanya. Bahkan kita harus senantiasa menyampaikan permintaan, meski hanya untuk sebutir garam.

Akan tetapi, jangan sampai pemahaman itu menjadi keliru dengan mendetail-detail secara berlebihan hingga diri tergolong memaksa Allah Ta’ala.

Dan ajaibnya, kepada doa para Nabi di dalam Al-Qur’an tersebut, Allah Ta’ala mengabulkannya dengan memberikan karunia yang benar-benar tak ternilai dan amat berlimpah. [Kisahikmah]