Dipukul Kepalanya Hingga Berdarah, Ulama Ini Malah Mendoakan Tentara yang Memukulnya

0

Menyelami kehidupan orang-orang saleh ibarat menempuh perjalanan yang penuh dengan kegembiraan raga, pikir, dan hati. Mereka yang sama manusianya dengan kita itu telah berhasil menggapai maqam spiritual yang tinggi hingga perangainya memesona dan menyejarah hingga akhir zaman kelak.

Para ulama dan orang-orang saleh itu bukan hanya melakukan kebaikan kepada siapa yang baik kepadanya. Bahkan terhadap mereka yang berlaku jahat dan menyakiti, mereka senantiasa memberikan kebaikan. Pun, saat ada yang memukul kepalanya hingga berdarah, yang memukul justru didoakan agar masuk ke dalam surga.

Tersebutlah sekelompok tentara yang bertemu dengan seorang ulama. Meski masyhur, tak banyak yang mengenali wajah sang ulama ini. “Di manakah tempat yang banyak orangnya?” tanya sekelompok tentara itu.

“Di pemakaman,” jawab sang ulama.

Berulang kali ditanya, beliau tetap sampaikan jawaban filosofis yang hanya mampu dipahami oleh mereka yang berilmu. Karena merasa dipermainkan, tentara itu pun turun dari kudanya seraya memukul kepala sang ulama hingga berdarah.

Meski memukul, para tentara ini mengantarkan beliau ke kota tempat tinggalnya. Sesampainya di tengah kerumunan jamaahnya, sang ulama ditanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai Kiyai?” beliau pun menceritakan apa yang terjadi.

Seusai cerita, para pendukungnya naik pitam seraya berkata, “Tidak tahukah kalian bahwa beliau adalah Ibrahim bin Adham?”

Seketika itu juga, sekelompok tentara itu menuruni kudanya dan mencium kaki sang ulama sebagai wujud permintaan maaf dan hormatnya.

“Apakah Anda tidak memperkenalkan diri, wahai Kiyai?” tanya pengikut-pengikutnya beberapa jenak kemudian.

“Mereka bertanya, ‘Apakah Anda seorang hamba?’ Maka aku pun menjawab, ‘Ya’ karena aku adalah hamba Allah Ta’ala.”

“Dan,” lanjut Ibrahim bin Adham, “saat mereka memukul kepalaku hingga berdarah, aku mendoakan mereka agar mendapatkan surga.”

“Hah? Mengapa Anda melakukan itu?” kejar para pengikutnya sampaikan tanya.

“Sebab, aku telah mendapatkan kebaikan darinya agar berlaku sabar. Maka aku pun berkeinginan memberikan kebaikan bagi mereka yang telah menjadi sarana bagiku untuk mendapatkan kebaikan.” akunya santun mengakhiri dialog.

Mahasuci Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala kurniakan kekuatan kepada kita untuk meneladani mereka. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

Dikisahkan kembali dari buku Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia, Imam al-Ghazali.

Berita sebelumyaEmpat Tingkatan Dzikir Menurut Imam al-Ghazali
Berita berikutnyaUlama yang Sujud Syukur setelah Disiram Sebaskom Debu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.