Dibenci Orang Shalih, Tapi Sangat Digemari Generasi Akhir Zaman

0
sumber gambar: www.kaskus.co.id

Laki-laki ini berasal dari kalangan pengikut sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, generasi tabi’in. Merupakan ahli ibadah, seorang yang zuhud, dan hafal banyak hadits. Aura keshalihan terpancar dari wajah, tutur kata, dan amal shalih yang menjadi kebiasaan laki-laki bernama Muhammad bin Suqah al-Kufi ini.

“Sukakah kalian jika aku tunjukkan suatu ucapan yang semoga saja bermanfaat untuk kalian karena ucapan itu bermanfaat bagiku?” tanya Muhammad bin Suqah al-Kufi.

Lalu, beliau menyampaikan nasihat yang didapatkan dari Atha’ bin Abi Rabah. “Orang-orang sebelum kalin sangat membenci omong kosong. Mereka menganggap semua ucapan sebagai omong kosong, kecuali Kitab Allah Ta’ala, amar makruf nahi munkar atau ucapan yang harus diucapkan demi hajat hidupmu.” ujar Muhammad bin Suqah mengutip nasihat Imam Atha’ bin Abi Rabah.

Selanjutnya, Muhamamd bin Suqah membaca dua ayat al-Qur’an al-Karim,

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (Qs. al-Infithar [82]: 10-11)

“(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qs. Qaf [50]: 17-18)

Salah satu orang terbaik dari generasi tabi’in ini mengakhiri nasihatnya dengan sebuah renungan, “Bukankah akan sangat memalukan jika buku catatan amal Anda dibuka di hadapan khalayak, lalu di dalamnya hanya ada omong kosong yang tidak bermanfaat sedikit pun untuk urusan agama dan dunia?”

Kini, kita hidup di akhir zaman yang makin menyesakkan dada. Mempertahankan iman tak ubahnya memegang bara api atau menggigitnya dengan geraham. Tata nilai berubah sangat drastis. Kebaikan ditampilkan sebagai keburukan, sementara keburukan dipromosikan sebagai sebuah kebaikan yang layak didukung dan diperjuangkan.

Alhasil, sesuatu yang dahulu terlarang dan sangat dijauhi oleh generasi terbaik umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya justru dianggap baik, merupakan sebuah kelebihan, dan amat digandrungi oleh generasi akhir zaman ini.

Di tahap ini, khusus untuk satu hal ini, sebelum beranjak kepada hal lain yang jauh lebih besar, kita perlu melirik sanubari ini sembari bertanya, “Dimanakah posisi kita? Meneladani para tabi’in atau justru menjadi bagian dari kelakuan buruk umat akhir zaman ini?”

Semoga Allah Ta’ala menolong kita. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaJalan Berliku Pemuda yang Bermimpi Melihat Neraka
Berita berikutnyaPerbuatan Halal yang Sebabkan Gejolak Syahwat