Dialog Mencengangkan Antara Anak dan Ayahnya

0
4354
Tilawah (islamaz.com)

Adalah Abu Yazid al-Busthami bertanya kepada ayahnya tentang tafsir surat al-Muzzammil [73] ayat 1-2,

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).”

“Wahai ayahku, siapa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk bangun sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut?” tanya Abu Yazid al-Busthami.

“Dia adalah Nabi Muhammad,” jawab sang ayah menjelaskan.

“Jika demikian,” lanjut Abu Yazid, “mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad?”

“Bagi Nabi Muhammad, shalat malam dihukumi wajib. Namun, bagi umatnya, hukum shalat malam sunnah. Ayat tersebut ditunjukkan kepada Nabi Muhammad, wahai anakku.” jelas sang ayah.

Masa berlalu, Abu Yazid menerima penjelasan ayahnya dengan puas sembari terus melanjutkan pembacaan dan kajian tafsirnya. Sampailah ia pada ayat terakhir surat al-Muzzammil, ayat ke-20.

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.”

Tanya Abu Yazid meminta penjelasan, “Ayah, siapakah yang melaksanakan shalat malam secara berjamaah sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut?”

“Mereka adalah para sahabat Nabi.” terang sang ayah.

“Lantas, mengapa ayah tidak mengerjakan apa yang dilakukan oleh para sahabat Nabi?” tanya Abu Yazid, polos.

Setelah pertanyaan tersebut dilontarkan dari sang anak, sang ayah langsung berubah. Sang ayah benar-benar berkomitmen, berniat dari hati yang paling dalam untuk melakukan apa yang dikerjakan oleh para sahabat Nabi dalam ayat tersebut, shalat malam.

Hingga pada suatu malam, Abu Yazid terbangun dan melihat ayahnya tengah mendirikan shalat malam dengan khusyuk. Ia beranjak mendekati dan menunggu ayahnya mengucapkan salam. Lepas salam, ia berkata, “Ayah, ajari aku mengambil air wudhu dan bagaimana mengerjakan amalan yang engkau kerjakan. Aku ingin melakukannya bersama ayah.”

“Tidurlah, Nak. Engkau masih kecil.” jawab sang ayah.

“Wahai ayah, jika kelak ada segolongan orang yang menghadap untuk melaporkan amalnya, aku pasti akan berkata kepada Tuhan bahwa aku telah meminta kepada ayah untuk mengajarkan cara bersuci dan mendirikan shalat malam, tapi engkau menolak dan malah menyuruhku kembali tidur.” Kata sang anak.

“Demi Allah,” ungkap sang ayah, “jangan lakukan itu, wahai anakku.”

Ketika pertama kali membaca dialog ini, saya terperanjak. Tercengang. Betapa sebagai anak yang memasuki usia kepala tiga, saya tidak pernah menanyakan soalan ini kepada ayah, atau menyampaikan pertanyaan serupa tentang makna ayat-ayat Allah Ta’ala.

Saat ini juga, sebagian kita benar-benar harus melakukan muhasabah. Karena sering kali, karena merasa menjadi orang tua, sebagian kita abai bahkan menolak apa yang disampaikan oleh anak-anak kita. Sungguh, ini kisah langka yang amat sukar didapati di zaman ini.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]