Di Los Angeles dan New York Tidak Ada Pezina

0

Seorang laki-laki mendatangi Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang kerap disapa HAMKA. Kepada ulama besar asal Minangkabau ini, si laki-laki mengisahkan penemuannya yang tidak masuk akal. Dia mengaku menemukan pezina saat berada di Tanah Haram.

“Subhanallah, Buya. Saya tidak menyangka jika di Makkah ini terdapat pezina.” tuturnya penuh rasa kaget.

“Oya? Saya kemarin baru pulang dari Los Angeles dan New York, dan masya Allah, di sana tidak ada pezina.” jawab Buya Hamka. Si penanya makin kaget. Kebingungan.

“Mustahil. Jika di Makkah yang merupakan tanah suci saja ada pezina, maka di Los Angeles dan New York pasti lebih banyak pezinanya.” pungkas si laki-laki anonim ini.

***

Kisah ini dituturkan oleh dai muda Salim Akhukum Fillah dalam akun resmi facebooknya. Dai yang juga penulis produktif ini tengah menunaikan ibadah haji bersama istri dan anaknya. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan haji mabrur kepada beliau sekeluarga dan kaum Muslimin yang berhaji. Dan semoga kita semua diberikan kekuatan untuk segera menunaikan rukun Islam yang kelima ini.

Apa hikmah dari kisah Buya Hamka dan seorang tanpa nama ini?

Ialah niat. Ialah keshalihan. Ialah tujuan. Ialah resonansi jiwa.

Kita akan diarahkan kepada kecenderungan yang ada di dalam hati kita. Jika niat kita baik, maka Allah Ta’ala akan memberikan kemudahan dan kelapangan bagi kita untuk mendapatkannya, meski kita berada dalam lingkungan yang kurang baik dan itu bukan kehendak diri.

Buya Hamka dalam kisah tersebut tidak menemukan pezina meski berkunjung ke New York dan Los Angeles yang merupakan dua kota dengan tingkat kehidupan bebas yang melampaui batas. Jangan tanya berapa tingkat kriminal di dua kota terbesar Amerika Serikat itu. Jangan bertanya berapa juta dolar nilai transaksi haram di sana.

Zina. Jual beli khamr. Dan sebagainya. Di sanalah pusatnya. Di tempat itulah sumbernya.

Namun, mengapa Buya Hamka berkata di dua kota itu tidak ada pezina? Karena beliau berdakwah. Beliau datang dengan semangat menebarkan kebaikan dan mendakwahkan kalimat Allah Ta’ala. Maka yang ditemui ialah orang-orang shalih dan yang memiliki kecenderungan untuk menjadi baik.

Jika pun seseorang berdakwah di tempat yang tidak baik, maka dia akan melihat objek dakwah sebagai orang yang amat patut dikasihani. Harus diselamatkan. Bukan dipandang sebagai pezina.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaRajin Dzikir kok Malah Dekat dengan Setan?
Berita berikutnyaInilah Ciri-Ciri Kambing Qurban Pilihan Rasulullah