Dengki yang Dianjurkan

1
ilustrasi padang pasir dingin © twanight.org

Ilmu bagaikan cahaya. Ia menerangi perjalanan seorang hamba di tengah gulita dunia yang semakim mencekam. Ia menunjuki para muafir kelana agar sampai di tempat penuh kebahagiaan yang didambanya.

Ilmu juga membimbing seorang hamba untuk menghindar dari celaka, maksiat, sengsara, maupun jenis ketidakbaikan lainnya. Ia akan mencegah pemiliknya dari keterjerumusan yang menyesakkan hati, mengeruhkan pikiran, juga melemahkan fisik.

Maka ilmu, akan membuat pemiliknya nampak beda dengan mereka yang tak berilmu. Orang yang berilmu akan paham secara detail sebab tak setengah-setengah dalam mengilmui sesuatu.

Jika dengki secara umum memang terlarang, misalnya, maka orang-orang yang berilmu mengetahui bahwa ada dua jenis dengki yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan.

Dasarnya adalah sabda manusia paling mulia dari Abullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Majah.

“Tidak diperbolehkan dengki kecuali kepada dua orang.”

Mereka adalah orang yang diberi harta kekayaan oleh Allah Ta’ala, lalu ia memanfaatkannya di jalan yang benar.

Dan, orang yang diberikan hikmah oleh Allah, lalu ia memutuskan perkara berdasarkan hikmah tersebut, dan ia mengajarkannya.

Abdullah bin Abbas menafsirkan hikmah dengan mengatakan, “Pengetahuan mengenai al-Qur’an yang meliputi; ayat nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, yang didahulukan dan diakhirkan, halal dan haram, dan semisalnya.”

Maka kepada orang inilah, kita harus merasa iri yang mendalam. Sebab mereka menjadi yang terpilih dengan usahanya untuk mempelajari ayat-ayat Allah Ta’ala secara mendalam, kemudian diberikan kekuatan untuk mengamalkan dan mengajarkannya.

“Hikmah,” kata Ibnu Abi Najih, “adalah ucapan yang tepat.” Maka mereka yang memiliki hikmah adalah orang yang menjaga lisan dengan berkata baik atau diam.

“Hikmah adalah,” tutur Abul ‘Aliyah menjelaskan, “rasa takut kepada Allah. Sebab rasa takut kepada Allah itulah pokok dari segala hikmah.”

Karenanya, mereka yang dikaruniai hikmah tidak akan sembarangan dalam bertindak atau memberikan keputusan. Mereka berpikir dengan saksama, agar tak salah dalam langkah hingga menjerumuskannya ke dalam siksa neraka.

Sementara Ibrahim an-Nakha’i dan Ibnu Wahab serta Zaid bin Aslam menjelaskan, “Hikmah adalah pemahaman atau akal.”

Semoga Allah Ta’ala memilih kita untuk dijadikan sebagai hamba-hamba yang memiliki hikmah. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaHanya Inilah Infaq yang Diterima
Berita berikutnyaSedekah Salah Alamat, Orang Ini Didatangi Malaikat

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.