Dari Tiga Mujahid Ini, Siapa yang Disebut Fi Sabilillah?

0
4005
mujahidin @4shared

Dari sekian banyak orang yang beramal, amat sedikit yang bisa menghadirkan keikhlasan di dalam dirinya. Ada yang berhasil ikhlas di awal, tapi rusak saat beramal. Sebagian lainnya belum ikhlas saat beramal, berupaya sungguh-sungguh, dan ikhlas saat beramal. Tapi, ikhlasnya kabur setelah amal usai. Begitu seterusnya.

Membincang ikhlas, sejatinya memang sangat sukar. Selain urusan hati, ikhlas menjadi langka karena janji balasannya pun amat melimpah. Orang-orang yang ikhlas akan ditempatkan bersama para Nabi, orang-orang shalih, dan orang-orang jujur dalam kedudukan yang tinggi si surga-Nya kelak.

Soal ikhlas ini, sejatinya sudah selesai dibahas. Akan tetapi, kitalah yang tak boleh merasa cukup sebelum ajal benar-benar menjemput. Apalagi manusia akan dinilai berdasarkan kondisi akhir hidupnya. Sehingga, tak ada satu pun di antara kita yang boleh merasa puas, apalagi berbangga diri.

Datanglah seorang laki-laki shalih kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia melaporkan tiga orang temannya yang ikut berjihad. Kepada Nabi, laki-laki ini menuturkan, “Orang pertama berjihad karena miskin. Ia ingin mendapatkan harta rampasan perang sehingga dapurnya bisa terus mengepul.”

Sedangkan yang kedua, “Orang ini berjihad karena perasaan tak mau dijajah. Ia tidak ingin kaumnya diperangi. Dan tidak berkehendak jika tidak ikut berjihad bersama kaumnya.” Dan yang ketiga, “Dia berjihad karena ingin disebut sebagai laki-laki yang gagah berani.”

Kelar menuturkan tiga sejawatnya yang ikut berjihad dengan masing-masing motifnya, laki-laki shalih yang tidak disebut namanya ini bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Dari ketiganya, siapakah yang layak disebut jihad fi sabilillah?”

Sekilas, kita melihat bahwa ketiga orang di atas tidak memenuhi syarat ikhlas. Motifnya bukan karena Allah Ta’ala dan Rasulullah, tapi harta, nasionalisme, dan gengsi agar disebut pemberani. Namun, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan dengan amat santun seraya menyampaikan, “Siapa pun (di antara ketiganya) yang berjihad untuk meninggikan kalimat Allah Ta’ala, maka dia (terhitung) fi sabilillah.”

Aduhai, jika demikian, apa yang menjadi landasan bagi sebagian kita untuk mudah menuduh orang lain tidak ikhlas dalam beramal hanya dari tampilan fisik dan niat yang kita ketahui? Bukankah soalan ikhlas murni antara dia dan Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui? [Pirman/Kisahikmah]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here