Dangkalnya Pemaknaan Syukur Di Antara Kita

0
sumber gambar: asepsupriatna.com

Entah darimana mulanya. Kita disuguhi parade pemahaman yang selalu identik dengan balasan angka atas amalan akhirat yang kita kerjakan. Baik sedekah, syukur, berbagai jenis shalat sunnah dan wajib, serta amalan akhirat lainnya.

Bahwa al-Qur’an dan sunnah memang menyebutkan balasan berupa angka atas amal shalih yang kita kerjakan itu benar adanya. Namun, dalam dua sumber suci tersebut juga banyak disebut balasan selain angka, yang jika dibahas mendalam justru lebih menyemangati fisik, menenangkan bagi pikiran dan membuat hati menjadi nyaman.

Syukur, sebagai satu contoh, selalu dibahas di berbagai kegiatan dengan dalih surat Ibrahim [14] Ayat 7.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku (Allah Ta’ala) akan menambahkan (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat dari Allah Ta’ala), maka pasti azab-Ku sangat keras.”

Apa yang salah dari DITAMBAH NIKMAT jika bersyukur? Tidak ada! Kekeliruan terjadi karena kurangnya tambahan keterangan sehingga pemahaman tertuju pada sederet angka, lalu dikaitkan dengan sepuluh kali lipat hingga ratusan kali lipat.

Hasilnya, banyak yang galau lantaran tidak mendapatkan ketenangan di hatinya. Pasalnya, TAMBAHAN itu tak kunjung disadari, atau mereka benar-benar tak merasa mendapatkannya dalam bentuk materi serupa atau materi lainnya.

Padahal, terkait syukur itu, ada minimal satu ayat yang amat menenangkan bagi siapa pun yang benar iman dan pemaknaannya.

Silakan ambil wudhu. Buka mushhaf. Surat ke 39. az-Zumar. Ayat 7.

“Dan jika kamu bersyukur, pastilah Dia (Allah Ta’ala) melimpahkan Ridha-Nya kepadamu.”

Mari bertanya kepada hati masing-masing. TAMBAHAN nikmat yang senantiasa dibahas dengan identifikasi sejumlah ANGKA dengan RIDHA Allah Ta’ala atas satu amal yang sama (syukur); manakah di antara keduanya yang lebih membuat kita lebih bersemangat, tenang pikiran, dan cerahnya hati?

Bukankah dengan RIDHA Allah Ta’ala itu kita mendapatkan yang jauh lebih agung dari seluruh nikmat surga? Bukankah hanya untuk RIDHA-Nya seharusnya kita berlomba-lomba untuk benar-benar mendapatkannya? Bukankah jika kita layak mendapatkan RIDHA-Nya, maknanya kita telah mendapatkan berbagai jenis TAMBAHAN kenikmatan yang tidak pernah bisa ditukar dengan sebanyak apa pun angka-angka ciptaan manusia?

“Ya Allah, tolong kami untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan dalam membaguskan ibadah kepada-Mu. Aamiin.”

Berita sebelumya7 Pengusaha yang Dijamin Masuk Surga (Bagian 3)
Berita berikutnyaKetagihan Ngaji