Bukan Khadijah, Tetapi Fathimah

0
562

Aku tersesat dalam peta perasaanku sendiri. Sikap dan perbuatan yang selama ini kuanggap mampu menerima dan memeluk segala bentuk hati yang berada di dadaku, justru aku semakin membawa mereka ikut tersesat dan merasakan sakit hati yang kurasakan.

Aku merasa sebagai pelaku kejahatan. Benar-benar teramat jahat saat mengizinkan mereka masuk dengan membuka gerbang hati ini dengan tawa, tetapi tak mampu membuka pintu hati ini karena tak mempunyai kunci dan bagaimana memasukinya. Sehinggga hanya rasa kecewa dan sakit yang mereka rasakan sembari berlari keluar dari hati ini dengan air mata yang aku pun tak mampu mengusapnya.

Maafkan aku.

Tuhan, ajari aku untuk mampu mengunci gerbang hati ini dengan sikap dan perilaku kepada dia atau siapa saja yang hendak memasukinya. Aku tak ingin banyak air mata lagi yang keluar. Karena hati ini, sebenarnya aku pun tak tahu bagaimana ia dan cara memahaminya.

Tuhan, beri aku kekuatan untuk berlari dan melompat dari cinta yang salah menuju cinta yang Engkau Ridhai. Pahamkan aku agar mampu memahami  hatiku sendiri dan hanya membuka gerbang ini hanya untuk dia yang Engkau tuliskan dalam skenario cinta-Mu, kemudian mempersuntingnya dengan cara yang dicontohkan Rasul-Mu.

Tuhan, bantu aku membuka hijab rasa yang belum kuketahui ini.

“Bukan Khadijah, tetapi Fathimah.” doaku.

Izinkan aku menjadi Ali, yang menyerahkan urusan hatinya kepada Sang Pemilik Hati dan perjalanan cintanya kepada Sang Maha Cinta. Saling menjaga cinta dan perasaan, sampai sang Iblis laknatullah pun tak menyangka karena tak mampu meraba, apalagi menjerumuskannya dengan perbuatan  zina dengan bungkus cinta yang mulia.

Izinkan aku menjadi Ali, orang terakhir yang diterima lamarannya dengan mahar paling sederhana. Hanya baju besi yang penuh sayatan tombak, pedang, dan panah. Namun Fathimah dengan restu ayahnya, Rasulullah, setelah begitu banyak khalifah dengan berbagai tahta datang meminangnya, tetapi ia tolak dengan memegang teguh keyakinannya, bahwa lelaki yang dicintainya juga mencintainya.

Aah, begitu indahnya cinta sejati dengan  skenario Sang Maha Indah.

Semoga kamu, Sang Fatimaha itu. Allahumma aamiin.

“Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras sampai benar mendapatkan apa yang Engkau inginkan.”

Engkau kebahagiaanku. Tanamkanlah kebahagian selamanya. Jiwa-jiwa kita telah bersatu bagaikan tanah dan tumbuhan.”

(Syair Sayyidina Ali bin Abu Thalib kepada Sayyidah Fathimah Az-Zahra) [Rudi Ikhwana-Peserta Belajar Menulis Online]

SHARE
Previous articleMenulis sebagai Bekal Menuju Akhirat
Next articleUpaya Hijrah dari K-Pop