Buat Apa Kaya Jika Durhaka?

0
sumber gambar: www.syahida.com

Ini tentang seorang anak yatim. Sepeninggal ayahnya, dia diurus oleh ibunya dengan perawatan yang terbaik. Sang ibu mengerahkan seluruh kemampuan terbaik demi kehidupan sang anak. Takdirnya, Allah Ta’ala memberikan kecerdasan dan kemampuan kepada si anak hingga mendapatkan pendidikan bergengsi di luar negeri, negara Barat.

Di hari perpisahan itu, saat sang ibu mengantarkan anaknya sampai ke bandara, sang janda yang mulai renta berpesan, “Hati-hati. Semoga Allah Ta’ala menjagamu. Jangan sampai lupa memberi kabar dengan surat. Kisahkan bagaimana kondisimu.”

Mematuhi wasiat sang ibu, si anak terus mengirim surat hingga studinya selesai. Sayangnya, dia kurang bisa menjaga diri. Gaya hidup orang barat telah merasuk ke dalam nuraninya. Kelak, dia bercita-cita hidup mapan dan berkemelimpahan harta.

Sepulangnya ke negeri sendiri, laki-laki ini menjadi diperebutkan perusahaan-perusahaan besar. Kepiawaian dan integritasnya tidak diragukan. Dia memilih perusahaan terbaik. Bekerja penuh gengsi, bayaran besar, hidup pun terjamin.

Sang ibu menawarkan seorang gadis kepada anaknya. Shalihah. Sang anak menolak. Dia hanya mau menikah dengan wanita yang cantik dan kaya. Wanita paling mulai ini pun memberikan izin. Anaknya menikah dengan gadis amat cantik, kaya, berasal dari keturunan terhormat.

Sekitar enam bulan setelah pernikahan, terjadilah prahara yang tidak diinginkan. Sang istri menangis di kamar saat laki-laki ini baru pulang dari kantor. Dia meminta keterangan. Sang istri menjawab, “Ibumulah penyebab ini semua. Usiar dia. Pilih aku dan tinggalkan dia atau pilih dia dan ceraikan aku.”

Atas desakan nafsu, laki-laki ini benar-benar mengusir ibunya. Sang ibu pergi membawa luka di hatinya. Sayatan yang amat perih karena diusir oleh anak yang merupakan kebanggan hatinya.

Beberapa masa setelah itu, sang anak didera sakit. Parah. Dirawat di rumah sakit berhari-hari.

Dasar ibu yang hatinya terbuat dari permata surga, dia mendatangi rumah sakit tempat anaknya dirawat. Tanpa pemberitahuan, tapi bisa mengetahui. Itulah kata hati seorang ibu yang tak bisa dipungkiri.

Sesampainya di rumah sakit, meski niatnya tulus untuk menjenguk anaknya, sang istri malah membentak dan mengusirnya. “Apa yang kau harapkan dari kami? Pergilah! Kami tidak membutuhkan kehadiranmu. Suamiku akan baik-baik saja.”

Sang ibu pergi dengan luka hati yang semakin dalam. Perih tiada terkira.

Beberapa hari setelah kesembuhannya, sang laki-laki segera pulang ke rumah. Namun, ada masalah besar yang menantinya. Lantaran ikuti gaya hidup sang istri yang banyak tuntutan, hutang pun kian menumpuk. Semakin pelik karena  dia juga kehilangan pekerjaan. Dipecat.

“Ceraikan aku. Cintaku hilang seiring hilangnya harta dan pekerjaanmu. Aku tak sudi lagi hidup dalam sengsara bersamamu.”

Dunia pun menjadi gelap. Kelam. Mencekam. Sang laki-laki menyesal. Menangis tiada terkira.

Beruntungnya, dia segera menyadari kesalahannya. Dia berjalan ke berbagai penjuru layaknya pengemis demi mencari ibunya. Hingga dia bertemu dengan ibunya di sebuah pengungsian.

“Setelah menangis berjam-jam di bawah kaki ibu, aku berjanji untuk menjamin semua kebutuhan ibu dan membahagiakannya dengan semua yang aku miliki.” ungkapnya menutup kisah.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumya8 Cara Membuka Pintu Rezeki Anjuran Rasulullah (2-Habis)
Berita berikutnyaRutinkan Amalan Ini, Karena Setan Tidak Mengerjakannya!