Bolehkah Berdoa dengan Kalimat ‘Wahai Pemilik Anji*g dan Bab*’?

0
sumber gambar: www.islamarticles.net

“Bersihkan dzikir kepada Allah Ta’ala dari mengalamatkan hal-hal yang tidak disukai kepada-Nya.” Imam al-Harits al-Muhasibi Rahimahullahu Ta’ala.

Orang-orang yang bodoh akan senantiasa menciptakan kebodohan-kebodohan sesuai dengan desakan syahwat, dorongan nafsu, dan bisikan setan yang terlaknat. Di antara mereka ada yang membolehkan memanjatkan doa dengan kalimat, “Wahai pemilik anjing dan babi, berikan kepadaku seluruh dunia dan seisinya.”

Mereka berdalih bahwa Allah Ta’ala merupakan Pemilik semesta raya, langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Termasuk semua jenis hewan.

Sekilas, argumen ini benar. Padahal terdapat kesalahan besar yang terkandung di dalamnya.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab Sunan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Kupenuhi panggilan-Mu dan siap melayani-Mu. Segala kebaikan ada di sisi-Mu. Keburukan tidak kembali kepada-Mu.”

Saat menjelaskan hadits ini, Imam Ibnu Atsir Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan dalam an-Nihayah dengan mengatakan, “Keburukan tidak bisa dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan tidak bisa dituju untuk mengharap Ridha-Nya Ta’ala. Keburukan tidak akan sampai kepada Allah Ta’ala. Yang sampai kepada-Nya hanya ucapan dan perbuatan yang baik-baik saja.”

Mendekat kepada Allah Ta’ala memerlukan adab. Ada etika, tata cara, dan sopan santunnya. Kita tidak bisa mendekat kepada Allah Ta’ala dengan cara kita. Mustahil pula mendekati-Nya dengan berbagai jenis keburukan; baik ucapan maupun perbuatan.

Tidak diperkenankan mendekati-Nya dengan ungkapan-ungkapan jorok, bernada umbar syahwat, caci maki, kedustaan, dan ungkapan keburukan lainnya. Tidak dibenarkan jika seorang berdalih mendekat kepada Allah Ta’ala, tapi hanya sibuk dengan perbuatan-perbuatan syubhat atau amalan-amalan bid’ah yang jauh dari makna kebaikan.

Maka kalimat ‘wahai pemilik anjing dan babi’ adalah keburukan. Sebab Dia Mahasuci dan tak layak disandingkan dengan dua hewan penyebab najis besar dan haram hukumnya. Dia Mahasuci dan hanya bisa dimintai sesuatu sesuai dengan nama-nama-Nya yang agung.

Begitu pula perdukunan, persembahan untuk semua yang dijadikan tuhan selain Allah Ta’ala, juga amalan-amalan yang mencampurkan antara laki-laki dan perempuan, baik dalam satu ruang dengan bebas bersentuhan apalagi sampai berhubungan badan atas nama mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Mahasuci Allah Ta’ala dengan segala firman-Nya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaKekayaan Sejati yang Banyak Dihindari
Berita berikutnyaIbuku Pembantuku