Begadang (yang) Sangat Dianjurkan

0
ilustrasi @blackdoctor.org

Allah Ta’ala menjadikan siang dan malam sebagai salah satu tanda Kekuasaan-Nya. Dia mempergilirkan keduanya. Memasukkan siang ke dalam malam dan memasukkan malam ke dalam siang. Dia Ta’ala menciptakan keduanya dengan karakter dan pemanfaatan yang berbeda; saling melengkapi satu dengan lainnya.

Jika siang dijadikan sebagai sarana untuk mencari penghidupan dan bertebaran di muka bumi, maka malam dijadikan sebagai waktu yang gelap, teduh, dan masa yang tepat untuk merebahkan badan; istirahat. Semuanya merupakan hikmah yang sangat agung bagi siapa yang mau berpikir.

Sebagaimana halnya siang yang memiliki keutamaan, malam pun demikian. Bahkan, Imam asy-Syafi’i yang madzhabnya dianut oleh sebagian besar kaum Muslimin di negeri ini pernah menyampaikan nasihat, “Siapa yang menghendaki kemuliaan (derajat yang tinggi), hendaknya dia mencarinya dengan banyak begadang di waktu malam.”

Oleh karena keutamaan malam tersebut, maka tidak semua begadang terlarang dan buruk. Ada aktivitas-aktivitas unggulan yang bisa dikerjakan saat seseorang begadang hingga terjaganya itu mendatangkan pahala bahkan bisa menjadi sebab dinaikkan derajatnya di sisi Allah Ta’ala yang mulia.

Mendirikan Tahajjud merupakan satu jenis begadang yang dianjurkan. Siapa mengerjakannya diganjar dengan derajat nan tinggi di sisi Allah Ta’ala. Berpikir di waktu malam, sebagaimana diamalkan oleh Imam asy-Syafi’i sepanjang malam hingga mendirikan shalat Subuh dengan wudhu di waktu Isya’ juga memiliki kemuliaan tersendiri. Siapa yang berfikir satu jam demi kemaslahatan umat, ada pahala nan agung selayak ibadah shalat sunnah yang dilakukan bertahun-tahun.

Oleh karenanya, banyak kita dapati generasi terdahulu yang mengamalkan ini dengan sangat baik. Di antara mereka bahkan mengatakan, “Jika tidak ada waktu malam, pastilah aku tidak betah hidup di dunia.”

Di antara yang lainnya bahkan merasa sangat sedih dan menangis sejadi-jadinya saat masuk waktu fajar. Sebab fajar menjadi pertanda akhir malam hingga seorang yang bermunajat di malam hari harus mengakhiri kebersamaannya dengan Allah Ta’ala.

Shuhaib ar-Rumi, sebagaimana dikisahkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, dikhawatirkan oleh istrinya. Orang shalih ini terlihat pucat wajahnya lantaran banyak begadang di jalan Allah Ta’ala. Namun, laki-laki ini hanya tersenyum sembari berujar ke sang belahan hati, “Sungguh Allah Ta’ala menjadikan malam untuk melakukan rehat, kecuali bagi Shuhaib. Sebab jika ia mengingat surga, muncullah kerinduannya yang mendalam. Dan jika mengingat neraka, maka hilanglah rasa kantuknya.”

Kita, tentu saja, harus bercermin kepada nurani yang paling dalam. Dimanakah kedudukan kita jika dibandingkan dengan mereka? Mudah-mudahan jaraknya tak sejauh zaman antara kita dengan mereka.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaPertanyaan Arab Badui yang Membuat Rasulullah Terdiam
Berita berikutnyaJika Yakini Selain 3 Hal Ini terkait Bintang, Anda Dusta terhadap Allah