Bahagianya Jomblo di Zaman Khalifah

0

Pemimpin bukanlah raja. Ia adalah pelayan yang mengurusi semua hajat rakyatnya. Sebab itu, pemimpin yang adil kelak diberikan naungan oleh Allah Ta’ala ketika tak ada lagi naungan selain naungan-Nya. Di zaman Khalifah, pemimpin bukan hanya mengurusi masalah besar berupa hubungan antar negara dengan negara lainnya; mereka dengan kemuliaannya, bahkan masih menyempatkan diri untuk mengurusi rakyatnya yang jatuh cinta.

Para jomblo yang tengah dimabuk rindu, dilanda asmara dan tengah berbunga cintanya, mendapatkan perhatian yang serius dari para Khalifah. Perhatian itu pun ditunjukkan dengan kerja nyata; mereka langsung dinikahkan sebab itulah satu-satunya obat paling mujarab bagi mereka yang dimabuk asmara.

Abu Bakar ash-Shiddiq, sebagaimana dikisahkan oleh Rahmat Idris dalam Dua Jiwa Satu Surga, tengah berkeliling memperhatikan rakyatnya. Inilah di antara bentuk perhatian dan tanggung jawab sang pemimpin idaman sepanjang zaman itu.

Di tengah jalan, beliau mendengar seorang wanita yang tengah bersyair. Rupanya, hati sang wanita tertawan di hati seorang pemuda. Melalui syairnya, wanita itu bersenandung, “Aku adalah seorang wanita yang dilanda cinta. Aku menangis karena mencintai Muhammad bin Qasim.”

Rupanya, wanita itu seorang budak. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq yang baik hatinya pun membebaskannya dari perbudakan, kemudian mendatangi Muhammad bin Qasim dan memintanya untuk menikahi gadis tersebut.

Di zaman Khalifah Utsman bin Affan, peristiwa serupa pernah terjadi juga. Saat itu, datanglah seorang pelayan yang mengadukan nasibnya. Rupanya, hati wanita itu tertawan pada keponakan laki-laki tuannya. Katanya mengadu, “Aku jatuh cinta dengan keponakan Tuanku. Aku tak sanggup lagi menahan rasa di hati ini.”

Duhai malangnya. Cinta menyergap sang wanita tepat di jantung hatinya. Mendengar penuturan wanita sahaya ini, Utsman pun mendatangi sang Majikan. Kata Utsman, “Engkau dapat memilih untuk memberikan pelayanmu ini kepada keponakanmu, atau aku akan menebusnya kemudian menyerahkannya kepada keponakanmu.”

Ternyata, sang Tuan berbaik hati dan menyerahkan sahaya kepada keponakannya. Dengan demikian, sang wanita bersanding dengan lelaki yang didambakannya. Indahnya…

Demikianlah para Khalifah mengurusi rakyatnya. Mereka persembahkan seluruh hidup yang dimiliki untuk rakyatnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Ta’ala. Mereka menyadari bahwa kepemimpinan adalah amanah yang kelak dimintai pertanggung jawabannya; mereka juga amat memahami bahwayang terbaik di antara sesama adalah yang paling banyak manfaatnya.

Semoga Allah Ta’ala berikan Ridha dan keberkahan kepada mereka dan siapa yang bersungguh-sungguh meneladaninya. [Pirman]

Berita sebelumyaMasuklah Surga dengan Tiga Pintu Kebaikan
Berita berikutnyaTertangkap Basah Menyelinap ke Rumah Gadis, Pemuda Ini Malah Dinikahkan