Azab bagi Sastrawan Sombong yang Merasa Bisa Membuat al-Qur’an dalam Tiga Hari

0
ilustrasi @wiyainews
ilustrasi @wiyainews
ilustrasi @wiyainews

Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah Ta’ala yang diturunkan melalui malaikat Jibril ‘Alaihis Salam untuk Nabi Muhammad Saw sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an merupakan mukjizat Nabi Muhammad Saw yang akan terjaga hingga Hari Kiamat. Allahlah yang menurunkannya, Dia pula yang akan menjaganya.

Dalam al-Qur’an, banyak disebutkan ayat berupa tantangan Allah Swt kepada orang-orang kafrir yang menolak kebenaran firman Allah Ta’ala itu. Kepada mereka yang ingkar, Allah Swt menantang mereka untuk membuat satu surah saja yang serupa dengan al-Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Qs. al-Baqarah [2]: 23)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala secara tegas menantang mereka untuk membuat satu surah saja dengan tambahan: silakan ajak penolong-penolongmu untuk membuat yang semisal al-Qur’an.

Nyatanya, mereka tak akan pernah bisa. Bahkan, bagi mereka yang bersombong diri bisa membuat yang serupa dengan al-Qur’an akan mendapatkan azab dari Allah Ta’ala di dunia, sebelum siksa yang abadi di neraka Jahannam.

“Seorang sastrawan merasa bisa membuat karya seperti al-Qur’an,” demikian tutur Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir”. Sastrawan sok pandai itu pun masuk ke dalam kamarnya untuk menyendiri. Sebelum memulai aksi dungunya, kepongahannya bertambah. Katanya, “Beri waktu kepadaku untuk membuat yang semisal al-Qur’an,” lanjutnya, “tiga hari saja.”

Setelah berlalu masa tiga hari seperti permintaannya, sosok sastrawan sombong ini tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Penduduk sekitar pun berinisiatif menagih janjinya. Maka beberapa orang masuk ke kamar sastrawan.

“Rupanya,” tutur Ibnul Jauzi melanjutkan, “tangannya sudah mengering sambil memegang pena.” Keadaannya semakin mengenaskan, sebab, “Ia sendiri sudah menjadi mayat.”

Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Mahabenar Allah Ta’ala dengan segala firman-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan nikmat keimanan dan ketakwaan kepada kita sehingga bisa berislam sampai akhir hayat. Semoga Allah Ta’ala memberikan karunia-Nya berupa pemahaman agar kita tak sombong. Sebab asalnya, kita memang tak tahu apa-apa dan tak berdaya sedikit pun, jika bukan karena karunia dari Allah Ta’ala. [Pirman]

Berita sebelumyaKisah Kepala Negara yang Memerahkan Susu Kambing untuk Rakyatnya
Berita berikutnyaPerbanyaklah Doa Saat Pintu Langit Terbuka