Ayah yang Durhaka kepada Anaknya

3

Anak adalah amanah yang harus dijaga dan dirawat dengan baik, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Jangan sampai amanah yang telah Allah Ta’ala berikan itu disia-siakan begitu saja. Kelak Allah Ta’ala akan mempertanyakan bagaimana perlakuan kita terhadap amanah yang telah diberikan-Nya itu.

Jangan sampai kita berasumsi bahwa orang tua berhak memperlakukan anaknya seenak udele dewe. Tidak. Itu asumsi yang salah. Orang tua harus memperhatikan pula hak-hak anaknya. Tidak adil rasanya bila orang tua menginginkan anak yang berbakti, tapi hak anaknya sendiri tak dipenuhi.

Sayyidina ‘Umar bin al-Khaththab radiyallahu ‘anhu pernah menegur seorang ayah yang datang mengadu perihal anaknya yang nakal. Dari laporan sang ayah, anaknya ini sering kali berkata kasar dan memukuli dirinya. Maka, ‘Umar bin al-Khaththab memanggil anak tersebut dan memarahinya.

“Celakalah kamu!” Lanjut ‘Umar, “Tidakkah kamu tahu bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar yang dapat mengundang murka Allah?”

“Tunggu dulu, wahai Amirul Mukminin,” anak itu menenangkan, “jangan engkau tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau seorang ayah memang memiliki hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya?”

“Ya, benar.” jawab Umar.

“Lantas, apakah hak anak terhadap ayahnya tadi?” lanjut sang anak.

“Ada tiga,” jelas ‘Umar, “pertama, hendaklah ia memilihkan calon ibu yang baik bagi putranya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang baik. Dan ketiga,” pungkasnya, “hendaklah ia mengajarinya menghafal al-Qur’an.”

Sang anak pun berkata kepada ‘Umar bin al-Khaththab, “Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, ayahku tak pernah melakukan satu pun dari tiga hal tersebut.”

Ia melanjutkan, “Ayahku tidak memilih calon ibu yang baik bagiku. Ibuku hanyalah hamba sahaya yang buruk, berkulit hitam, dan dibeli dari pasar seharga dua dirham.”

“Setelah lahir pun, ayah menamaiku Ju’al*, dan dia tak pernah mengajariku menghafal al-Qur’an walau satu ayat.”

‘Umar pun menghampiri ayah dari anak tadi, kemudian memarahinya, “Engkaulah yang mendurhakainya sewaktu kecil,” lanjut ‘Umar, “pantaslah kalau ia durhaka kepadamu sekarang.”

Begitulah. Seorang ayah pun bisa mendurhakai anaknya bila tak memperhatikan hak-hak sang anak yang mesti dipenuhi. [Mustaqim Aziz]

*Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan sebagai orang yang berkulit hitam dan berparas jelek, atau orang yang emosional (al-Qamus al-Muhith)

Berita sebelumyaSebelum Nyawa Terputus, Aku Tetap Mencintainya
Berita berikutnyaTolak Satu Juta, Haji Gratis bagi Abang Becak

3 KOMENTAR

  1. tetapi ibu tetaplah ibu.. yang melahirkan dan membesarkan.. hendaknya bagaimana pun rupa ibu tetap kita sayangi,, namun bila akhlak dan keshalehan ibu kita kurang, baiknya kita bimbing beliau karena surga ada di telapak kaki ibu..

    • Mohon pendapatnya..
      Ibu mertua saya gemar berhutang, sedari anak2nya kecil tidak mengurus dgn baik.. Anaknya mau pergi sholat Jumat malah dibilang kafir.. mulutnya kasar, lancar sekali mengucapkan sumpah serapah ke anak2nya.. Sedikit saja keinginan beliau tidak dipenuhi anaknya, sumpah serapah meluncur deras dari mulutnya.. Yg beliau tau di hidup ini cuma uang, uang, dan uang.. Entah anaknya punya uang atau tidak, pokoknya uang.. Terkadang suami saya cuekin ibunya, karena sudah capek menghadapi beliau..
      Bagaimana menurut anda? Adakah saran yg baik untuk kami?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.