Apakah Allah Ta’ala Mengharapkan Pinjaman?

1

Di antara rahasia yang menjadikan sahabat Nabi sebagai generasi terbaik umat ini adalah kepatuhannya ketika mendengar firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi-Nya. Mereka mendengar, kemudian taat. Mereka langsung menjalankan sebuah perintah atau meninggalkan larangan.

Mereka sedikit bertanya, dan tidak akan beralih dari satu ayat menuju ayat berikutnya sebelum berhasil mengamalkan kandungan ayat tersebut. Maka, mereka adalah generasi yang belajar al-Qur’an untuk menjadikannya sebagai panduan hidup; bukan sekadar hafalan apalagi gaya-gayaan.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, sebuah pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (Qs al-Baqarah [2]: 245)

Ayat ini menerangkan tentang keutamaan berinfaq di jalan Allah Ta’ala. Ada juga yang menyebutkan bahwa makna pinjaman yang baik adalah nafkah untuk keluarga, sedangkan yang lainnya mengartikan sebagai tasbih atau taqdis (penyucian).

Ketika ayat ini diturunkan, tutur Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, Abu Dahdah mendatangi Nabi. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abdullah bin Mas’ud, Abu Dahdah bertanya, “Ya Rasulullah,” lanjutnya penuh keingintahuan, “apakah Allah Ta’ala mengharapkan pinjaman dari kita?”

“Ya, wahai Abu Dahdah,” jawab Nabi singkat.

Jika begitu, lanjut Abu Dahdah kepada kekasihnya itu, “Perlihatkanlah tanganmu, wahai Rasulullah.”

Kemudian, lanjut Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah pun mengulurkan tangannya, dan Abu Dahdah berkata, ‘Sesungguhnya aku akan meminjamkan kebunku kepada Rabbku.’”

Setelah itu, Abu Dahdah mendatangi kebunnya. Di dalam kebun itu terdapat enam ratus pohon kurma. Di dalamnya tinggal pula ibu dan keluarga Abu Dahdah.

“Hai Ummu Dahdah,” seru sang anak shaleh ini.

“Labbaik,” jawab sang ibu yang shalehah itu penuh kerelaan.

“Keluarlah,” pinta sang anak, “karena aku teah meminjamkannya kepada Rabbku.”

Inilah kehebatan mereka. Mereka adalah generasi yang taat tanpa tapi. Saat mendengar perintah, mereka berlomba untuk menjadi yang terdepan dalam mengamalkan. Sedangkan terkait larangan, mereka berebut menjadi orang pertama yang menghindari dan meninggalkannya.

Maka jelaslah, kita dan mereka amat jauh perbedaannya. Bahkan, saat adzan berkumandang, di antara kita ada yang berkata, “Baru juga adzan.” Terus begitu, hingga perkataan, “Baru juga satu rakaat”, hinga mereka benar-benar tertinggal dari shalat berjamaah bersama imam di awal waktu.

Karenanya, mengulang-ngulang kisah mereka adalah sarana amat mujarab agar kisah tersebut menjadi akrab, terinstal dalam diri, sehingga diberi kemudahan, kebiasaan dan keotomatisan untuk meneladani kebaikan yang tak akan pernah kering itu. Semoga. [Pirman]

Berita sebelumyaKisah 4000 Orang yang Dibinasakan dengan Satu Kalimat
Berita berikutnyaInilah Ayat Paling Utama yang Memiliki Satu Lidah dan Dua Bibir

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.