Anak Nakal Kok Hafal al-Qur’an?!

0
ilustrasi @artikel.masjidku.id

Ketika anak ini bergabung dengan taklim anak-anak saban bakda Maghrib di kontrakan kami, ada sebagian orang tua yang menyampaikan kekhawatirannya.

Sebagian mereka khawatir jika si anak berbuat onar atau banyak berulah. Sebagian lainnya khawatir jika anak-anaknya tertular kenakalan yang biasa dilakukan oleh anak kelas enam sekolah dasar ini. Sedangkan sebagian lainnya bersikap cuek. Tidak terlalu peduli dengan bergabungnya si anak yang dianggap sebagai pemimpin dari anak-anak nakal di sekitar tempat tinggal kami.

Sebagai orang baru di lingkungan itu, saya tentu memiliki kekhawatiran serupa. Namun, yang pertama kali mendominasi adalah perasaan syukur saat si anak bergabung untuk pertama kalinya di majlis kami. Si anak, tentu saja tidak melangkah dengan sendirinya. Ada Kuasa Allah Ta’ala yang menjadikannya kuat dan benar-benar sampai di kontrakan kami.

Singkat kisah, kami hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran sebagian orang tua. Kami juga melakukan berbagai pendekatan dan menyampaikan kepada mereka terkait kehkawatiran yang tidak beralasan itu. Kami juga meminta timbal balik kepada sebagian mereka untuk mengisahkan sejarah hidup si anak hingga dilabeli nakal oleh sekelilingnya.

Sebagai orang yang mengambil posisi sebagai pendidik, kami tentu harus berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Apalagi Dia telah menegaskan bahwa hati adalah urusan-Nya. Dia Maha Berkuasa untuk membolak-balikkan hati. Sehingga amat mudah bagi-Nya untuk membalikkan hati si anak untuk menjadi pembela kebaikan di garda terdepan.

Kemudian, saya menyampaikan kepada istri tentang fakta kenakalan si anak. Agar dia turut mendoakan. Mudah-mudahan kita dijadikan sarana bagi si anak untuk menemukan manisnya hidayah Islam dan iman.

Waktu berjalan. Entah sudah berapa lama majlis yang rutin di gelar di ruang tamu seluas dua kali tiga meter ini. Alhamdulillah, pesertanya bertambah dari dua menjadi lebih dari dua puluh anak hingga kami membaginya menjadi dua kelas; bakda Maghrib dan bakda ‘Isya’.

Berbagai pendekatan kami lakukan seraya menyempurnakan ikhtiar dan mengoptimalkan doa kepada Allah Ta’ala. Sebab mendidik anak merupakan proses mengubah sebuah peradaban menjadi lebih baik sebagaimana diamanahkan oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat-Nya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam banyak haditsnya.

Meski masih banyak kekurangan, dan memang manusia bukanlah makhluk yang sempurna, kami bersyukur lantaran si anak yang dilabeli ‘nakal’ itu, sekitar beberapa hari yang lalu telah usai menyetor hafalan surat an-Naba’ yang terdiri dari empat puluh ayat.

Dengan terbata-bata, sebagaimana anak-anak lain yang memang mendapatkan pendidikan ala kadarnya dari orang tua dan lingkungan, anak ini benar-benar terlihat serius dan mulai menujukkan perubahan sikap. Kini, si anak mulai melanjutkan ke surat an-Nazi’at.

Semoga kita dihindarkan dari perbuatan buruk melabeli anak dengan keburukan. Semoga kita dipilih untuk menjadi penggerak kebaikan dan pemasarnya yang utama, di mana pun posisi yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada kita.

Semoga Allah Ta’ala menerima amal kebaikan dan mengampuni dosa-dosa kita. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaBanyak Diperebutkan, Padahal Jaminannya Neraka
Berita berikutnyaFilosofi Bagong; Bahagia di Akhirat