Amalan Sufi: Tarik Kembali Sedekahmu!

0
9088
ilustrasi @medium.com

Abu Amr bin Nujaid yang memiliki nama asli Ismail bin Nujaid as-Sulami an-Naisaburi merupakan ulama langka. Seorang guru tasawuf, ahli ibadah, zahid, dan perawi yang paling baik sanadnya di Khurasan kala itu. Sosok yang wafat pada tahun 365 Hijriyah ini berguru kepada Imam Junayd al-Baghdadi dan Imam Abu Utsman al-Hiri serta guru tasawuf lainnya.

Suatu ketika, beliau pernah menarik kembali uang 100 Dirham (senilah 49 juta rupiah) yang telah diinfaqkan melalui gurunya kepada kaum Muslimin. Mengapa beliau melakukan tindakan ini? Bukankah menarik uang yang telah disedekahkan bukan merupakan tindakan yang terpuji?

Abu Utsman, guru sufi Abu Amr, membutuhkan sejumlah uang untuk keperluan para ahli ibadah, ahli zuhud, dan pejuang yang melakukan ribath (berjaga-jaga di jalan Allah Ta’ala) di gerbang Khurasan.

Setelah lama tidak mendapatkan donatur, Abu Amr datang menyerahkan uang tunai senilai 1000 Dirham. Abu Utsman sangat bahagia menerima uang tersebut.

Siang harinya, Abu Utsman mengumumkan di depan jamaah majlis taklimnya. “Wahai para jamaah, aku benar-benar berharap, semoga Abu Amr mendapatkan pahala yang berlimpah karena dia sudah memenuhi kebutuhan jama’ah dengan membawa bantuan ini dan itu. Semoga Allah Ta’ala memberikan pahala atas semua jasanya.”

Tidak disangka-sangka, Abu Amr berdiri, lalu mendekat ke arah Abu Utsman. “Sebagian uang yang aku berikan tadi malam itu milik ibuku. Ternyata, beliau tidak ridha atas perbuatanku itu. Maka, kembalikanlah uang itu kepadaku untuk aku kembalikan kepadanya.”

Suka tidak suka, Abu Utsman pun memberikan uang infaq tersebut kepada Abu Amr. Jamaah pun bubar dengan beragam ekspresi dan reaksi.

Saat malam hari itu semakin larut, Abu Amr kembali mendatangi kediaman gurunya. Tanpa sepengetahuan siapa pun.  Dia membawa seluruh uangnya. Sambil menyerahkan, Abu Amr berkata, “Gunakan uang ini untuk keperluan itu (kaum Muslimin). Tapi hanya kita berdua saja yang boleh mengetahui hal ini.”

Sang guru langsung menangis melihat tindakan salah satu murid terbaiknya itu. Ungkapnya sembari terisak sebagaimana dikisahkan oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam syarah Risalah al-Mustarsyidin, “Aku khawatir terhadap kesungguhan Abu Amr.”

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepada keduanya. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

SHARE
Previous articleEksklusif: Berubahnya Dakwah KH M Arifin Ilham setelah Poligami
Next articleBenarkah Nabi Isa ‘Alaihis salam Mampu Berjalan di Atas Air? Inilah Penjelasannya