Akibat Menelantarkan Ibu

0
ilustrasi @trendingtopikpost.blogspot.com

Laki-laki ini berkisah sembari menangis. Air matanya tumpah. Tidak terbendung. Di usianya yang sudah tujuh puluhan tahun, dia menerawang. Melihat ke belakang. Tepat lima puluhan tahun yang lalu. Ketika usianya baru dua puluhan tahun. Saat itu, dia berlaku durhaka dengan menelantarkan ibunya.

Setelah ayahnya meninggal dunia, laki-laki ini mewarisi emas dan toko-toko milik sang ayah. Dengan kecerdasannya, semua aset milik sang ayah dikembangkan hingga melimpah. Sang ibu tidak meminta apa pun, kecuali sebatas kebutuhan sehari-hari untuk makan dan minum. Menegakkan tulang belakangnya.

Prahara bermula ketika laki-laki ini menikah. Meski terlihat baik, istrinya itu memiliki kepribadian yang kurang terpuji. Dia menutupnya dengan amat rapat.

Saat anak pertama telah lahir, istrinya itu mengajukan usul agar dibelikan rumah baru. Berpisah dengan sang ibu. Dalihnya, dia ingin benar-benar merasakan menjadi ibu yang total mengurus anak dan rumah.

Sang suami tak bisa mengelak. Rumah baru dihuni. Sang ibu ditinggalkan di rumahnya. Mula-mula, laki-laki ini berhasil merutinkan kunjungan. Sekali dalam satu pekan. Saat datang, dia membawakan seluruh keperluan sang ibu.

Namun, kebiasaan itu semakin berkurang. Apalagi setelah dia mengikuti saran istrinya untuk kembali membeli rumah yang lebih bagus dengan jarak yang lebih jauh dari ibunya. Lantaran jauh pula, si laki-laki makin jarang berkunjung.

Parahnya, dia hanya menitipkan ibunya kepada tetangga. Hanya menitipkan. Tak ubahnya menitipkan barang.

Sebab kesibukan mengurus usaha, laki-laki ini benar-benar tak mengetahui bahwa ibunya jatuh sakit hingga meninggal dunia. Dia baru mengetahui beberapa hari setelahnya, saat tetangga datang ke rumahnya untuk menyampaikan kabar duka yang diterima dengan hambar itu.

Berhari-hari setelah itu, laki-laki ini melupakan hari kematian ibunya. Tiada sedikit pun perasaan bersalah. Dia menjalani kehidupan bisnisnya hingga istrinya meninggal dunia.

Laki-laki ini lantas mengajukan permintaan kepada anaknya. Ia ingin menikah lagi. Malangnya, kedua anaknya tidak memberikan izin. Saat dia hendak marah, dua anaknya justru telah menyiapkan seluruhnya. Keduanya berhasil mengurus berbagai surat yang mengatur pelimpahan kekuasaan perizinan perusahan ayahnya hingga perusahaan itu benar-benar dikuasai oleh keduanya.

Mengetahui hal itu, laki-laki ini semakin tak karuan. Kondisi kesehatannya menurun. Dan makin parah ketika dua anaknya benar-benar pergi dari rumah itu. Membeli rumah yang lebih bagus dan melanjutkan kehidupannya.

Ketika itu, laki-laki ini hanya bisa menangis. Sedih. Perih. Meski percuma. Dalam gigil ketakutan di malam gulita, bayangan kesendirian senantiasa menghantui. Kala itu, dia hanya mampu menyesali perbuatan buruknya tempo hari. Dia hanya mampu berdoa, “Ya Allah, jangan sampai aku meninggal sebagaimana ibuku.”

Sesal memang selalu datang belakangan.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaAkibat Durhaka kepada Ayah
Berita berikutnyaSampaikan Kisah Mencengangkan Ini kepada Mereka yang Suka Memarahi Anak Kecil di Masjid!