Dipalak Orang Badui dengan Kasar, Inilah Respons Rasulullah

0
5951
ilustrasi

Apakah Anda muak dengan kelakuan oknum pemimpin yang kasar dengan lontaran kalimat buruknya? Apakah Anda hidup di lingkungan tanpa batas sehingga keburukan-keburukan dalam bentuk tulisan dan ucapan membanjiri keseharian tanpa ampun?

Jika demikian, mungkin ada yang hilang dari diri kita sebagai muslim. Pasalnya, jika melihat kehidupan para pendahulu umat ini, mereka adalah sosok-sosok inspiratif yang jauh dari makna kasar dan buruk.

Dikisahkan oleh banyak imam hadits dengan derajat muttafaq ‘alaih, sahabat mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan sebuah episode mencengangkan dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

“Aku menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dalam sebuah perjalanan. Beliau mengenakan jubah  buatan Najran yang ujung-ujungnya tebal. Tiba-tiba, seorang badui mendekatinya seraya menarik jubbah itu keras sekali. Aku sempat melihat kulit pundak Nabi tergores oleh ujung jubah yang ditarik dengan sangat keras itu.”

Sebelum membaca kelengkapan hadits ini, mari membayangkan respons seorang pemimpin Negara yang mengalami kejadian seperti ini. Ia tengah melakukan perjalanan. Kunjungan kerja. Di tengah perjalanan, ada rakyat biasa-bahkan terbelakang-yang menarik pakaian sang pemimpin dengan amat keras hingga terluka.

Apa kira-kira respons seorang pemimpin selain Nabi jika mengalami hal itu? Marah? Langsung memerintahkan stafnya untuk menangkap? Memuntahkan sumpah serapah sampai membuat peraturan pemerintah terkait hukuman untuk orang itu? Atau tindakan lainnya?

Belum kelar, laki-laki pedalaman Badui ini bertutur dengan nada yang kasar, “Wahai Muhammad, perintahkanlah orang-orangmu untuk memberikan harta Allah Ta’ala yang ada di tanganmu kepadaku!”

Sudah tidak sopan, kasar, laki-laki udik ini juga memalak. Bukan meminta, tapi memaksa agar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam memberikan harta kepadanya.

“Mendengar itu,” tutur sahabat mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang menyaksikan kejadian itu, “Nabi Shallallahu ‘AlaihI Wa sallam hanya melirik kepadanya dan tersenyum.”

Setelah itu, “Beliau pun menyuruh sahabatnya memberikan harta yang diminta oleh laki-laki Badui itu.”

Allahumma Shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.

Sungguh, ini teladan amat nyata yang makin langka bahkan mungkin tiada di zaman ini.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]