Air Mataku Cukup Allah Yang Tahu

0
382
ilustrasi (blogger)

Menulis adalah salah satu dari sekian banyaknya hobi saya sejak dulu. Saat duduk di bangku SMP, saya suka corat-coret di halaman belakang buku tulis. Apalagi kalau mata pelajarannya kurang diminati, saya malah asyik berpuisi sendiri.

Kebiasaan itu masih melekat dalam kehidupan sehari-hari sampai saya bekerja. Saya yang sehari-hari bekerja di klinik dokter bagian pendaftaran, sambil mengabsen pasien satu persatu, sesekali saya menyapa pulpen dan kertas untuk sekedar berpuisi.

Sejak remaja, saya memang sangat hobi membaca majalah, seperti  MOP waktu SMP. Seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya usia, pengalaman hidup, baik bersama teman, saudara dan keluarga, bahkan dengan orang lain, hobi menulis itu semakin mengalir dalam diri saya.

Ingin menjadi Penulis

Saya pribadi lebih suka mengungkapkan emosi melalui media sosial (baik bahagia, sedih, galau, sakit hati, kecewa, marah) dalam bahasa puisi atau tulisan-tulisan lain dengan tujuan memotivasi diri saya sendiri. Jika mungkin yang membaca termotivasi, ya alhamdulillah.

Suatu ketika, suami membaca status saya di facebook tentang fitnah, dan beliau bertanya secara langsung, apakah saya ingin menjadi penulis?

Dengan senyum, saya menjawab, “Iya.”

Entah apa yang terbesit dalam fikiran suami saya waktu itu, tapi saya sangat bahagia. Dari pertanyaan itu, saya mengerti bahwa beliau mendukung saya.

Buat Apa Jadi Penulis?

Saya merasa termotivasi dengan tulisan para penulis buku atau media sosial. Saya ingin belajar agar bisa memotivasi orang lain.

Dengan menulis, rasanya saya bahagia. Dengan menulis saya mampu mengungkapkan sesuatu yang tak mampu saya ungkapkan secara lisan.

Dengan menulis saya bisa mencurahkan kesedihan yang tak perlu orang lain dengar. Saya bisa menumpahkan air mata yang tak perlu orang lain lihat.

Karena bagi saya, bahagiaku boleh diketahui orang lain. Namun air mataku cukup hanya Allah dan orang terdekatku yang tahu.

Bakat Terpendam

Selama ini, semenjak SMP dan sekarang berusia 27 tahun, hobi saya hanya bisa tuangkan dalam agenda pribadi, kertas-kertas kosong, dan beranda medsos.

Saya merasa mempunyai bakat menulis. Saya yakin semua orang juga bisa menulis.

Tapi yang sering saya fikirkan, “Ahh.. mungkin nggak ya tulisan saya bisa terbit?”

Mungkin saja.

Seringkali tanya jawab seperti itu muncul dalam fikiran saya.

Mendapat Peluang

Beberapa waktu yang lalu, setelah membaca status facebook seorang penulis muda, dan beliau dulu kakak kelas saya waktu SMA, Pirman namanya. Beliau membuka peluang belajar menjadi penulis bagi pemula termasuk saya.

Dari materi yang disampaikan, saya merasa termotivasi. Saya merasa, ini adalah kesempatan yang sayang kalau sampai diabaikan.

Bismillah… dengan harapan Allah meridhoi dan memudahkan langkah saya. Aamiin. [Azizah-Peserta Belajar Menulis Online]

SHARE
Previous articleMenulis untuk Dakwah
Next articlePerjuangan Mengalahkan Sakit dan Malas