Adakah Bencana Lebih Besar dari Yang Kualami?

0
ilustrasi @menembussepi

Di dalam setiap karunia yang Allah Ta’ala berikan, terdapat hak syukur di dalamnya. Dan, dari setiap perasaan, ucapan, atau amalan yang merupakan makna syukur, ada hak penambahan nikmat yang menjadi bagian untuk kita.

Tersebutlah sebuah kisah seorang raja yang memenjarakan seorang laki-laki. Kepada laki-laki di dalam jeruji besi itu, diterimalah sebuah surat dari sahabatnya. Sang sahabat yang tak disebut namanya ini menulis, “Bersyukurlah kepada Allah Ta’ala.”

Si laki-laki pun masih memaklumi dan memahami surat dari sahabatnya itu. Meski melakukan syukur di dalam penjara adalah amalan yang sama sekali tidak bisa dibilang mudah.

Maka, laki-laki itu pun medapatkan siksaan di dalam jeruji besi itu. Dipukuli, ditendang, dikeroyok ramai-ramai oleh petugas, dengan tongkat, diinjak-injak, dan ragam siksaan lainnya. Tak lama setelahnya, meski sang sahabat mengetahui apa yang dialami oleh laki-laki itu, ia tetap menuliskan, “Bersyukurlah kepada Allah Ta’ala.”

Betapa beratnya. Jika bersyukur ketika dipenjara saja sudah amat sukar, bagaimana lagi dengan bersyukur saat dan setelah dipukuli hingga sekujur tubuh merasa memar, babakbelur, luka di sekujur tubuh, juga berdarah-darah?

Berselang hari, dimasukkanlah seorang Majusi ke dalam sel yang sama. Si Majusi itu, rupanya tengah sakit perut. Bertambah tersiksa, sebab kaki si Majusi dirantai dengan kaki si laki-laki. Sehingga keduanya harus ikut bergerak ketika salah satunya berpindah tempat.

Ketika malam hari, si laki-laki semakin tersiksa. Sebab sakit perutnya, si Majusi buang-buang kotoran di sepanjang malam; besar dan kecil. Sedangkan di sel sempit nan pengap dan bau itu tidak terdapat tempat buang air.

Nampak aneh, ketika mengetahui apa yang dialami oleh si laki-laki, sahabatnya di seberang sana kembali mengirimkan surat. Bukan dengan redaksi yang berbeda, sahabatnya itu tetap menuliskan satu kalimat, “Bersyukurlah kepada Allah Ta’ala.”

Tak sabar dan tak memahami maksud sahabatnya itu, diiringi kesal dan emosi yang bercampur padu dalam dirinya, laki-laki ini menulis balasan, “Sampai kapan engkau akan berkata, ‘Bersyukurlah kepada Allah Ta’ala?’ Adakah bencana yang lebih besar dari yang aku alami ini?”

Menjelaskan maksudnya, sahabatnya ini menulis balasan atas surat balasan laki-laki di penjara, “Seandainya sabuk yang diikatkan pada pinggangnya disatukan dengan pinggangmu sebagaimana kakimu saat ini disatukan dengan kakinya, apa yang akan kau lakukan?”

Tutupnya dalam surat keempatnya itu, “Maka bersyukurlah kepada Allah Ta’ala.” [Pirman]

Rujukan; ‘Uddatush Shabirin, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah

Berita sebelumyaJika Ingat Kalimat Ini, Aku Selalu Menangis
Berita berikutnyaJauhi Tujuh Hal yang Membinasakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.