6 Kewajiban Hati bagi Para Pelaku Tasawuf (2)

0
sumber gambar: www.slideshare.net

Lanjutan dari 6 Kewajiban Hati bagi Para Pelaku Tasawuf

Berprasangka Baik

Terkait kewajiban ketiga, Imam al-Harits mengatakan, “Berprasangka baik ketika ada syubhat.” Maknanya, sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, jika kita melihat orang shalih tengah melakukan sesuatu yang syubhat, maka kita diwajibkan untuk berbaik sangka. Berbaik sangka merupakan kewajiban bagi seorang Muslim kepada seluruh umat Islam dan manusia pada umumnya.

Selain ganjaran yang agung, prasangka baik pasti menghasilkan kemudahan hidup, ketenangan jiwa, pikiran yang jernih, dan badan yang sehat. Sebab buruknya prasangka akan senantiasa menghasilkan keburukan-keburukan lain. Ia merupakan satu di antara sekian banyak proyek yang dilancarkan oleh setan terlaknat. Na’udzubillah.

Percaya dengan Janji Allah Ta’ala

Sunggu, janji Allah Ta’ala itu haq. Tiada satu pun huruf yang dikatakan oleh-Nya, kecuali ada pengabulan dan fakta. Terbukti. Mustahil diingkari. Neraka itu haq. Surga itu haq. Akhirat itu haq. Siksa itu haq. Kenikmatan surga juga haq. Semua yang disampaikan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya hanyalah kebenaran yang mustahil diingkari. Pasti terjadi.

Takut kepada Siksa-Nya

Jika melihat siksa manusia dan kecelakaan dunia saja sudah berhasil menerbitkan rasa takut, seperti itu pula seharusnya sikap kita saat membaca dan mendengar ayat-ayat Allah Ta’ala tentang siksa neraka. Ialah takut berupa gegas dalam iman dan kesibukan beramal shalih dengan ikhlas, bukan takut yang salah berupa menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan dan dosa karena beranggapan mustahilnya lolos dari siksa-Nya yang amat pedih dan menyakitkan.

Mengharapkan Karunia-Nya

Ialah nikmat di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Nikmat dunia bukan sebatas makanan, minuman, pasangan hidup, tempat tinggal, dan asesoris fana lainnya, tapi juga nikmat bermunajat kepada Allah Ta’ala, senantiasa berdzikir menyebut nama-nama-Nya yang agung, mengakrabkan diri dengan al-Qur’an al-Karim, kesibukan berbuat baik kepada keluarga dan sesama, serta amalan-amalan ruhani yang berfungsi sebagai cicipan rasa surga di dunia.

Para pelaku tasawuf yang murni tentu mamahami, betapa nikmat makanan paling mahal di dunia ini, jabatan paling tinggi di alam fana ini, kendaraan paling mahal dan nyaman serta seluruh perhiasan dunia lainnya tidak akan pernah mampu menandingi nikmatnya bermunajat kepada Allah Ta’ala dalam tahajjud, witir, dzikir dan tilawah di sepertiga malam yang terakhir.

Kenikmatan inilah yang membuat orang shalih betah di dunia, sebab asasinya, dunia itu amat menyesakkan dada, melenakkan pikiran, dan membuah hati berkarat.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumya6 Kewajiban Hati bagi Para Pelaku Tasawuf
Berita berikutnyaUngkapan Inspiratif tentang Hakikat Hati